Tuesday, October 30, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0135 Takwa dan Interaksi Dengan al Qur'an

 Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Takwa dan Interaksi Dengan al Qur'an
Seri Materi : Seri 35 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Ada
Tugas: Tidak


Takwa dan Interaksi Dengan al Qur'an

(Disertakan file audio yang bisa didownload untuk pengantar kuliah ke-35 ini. Silahkan ya. Mudah-mudahan bermanfaat. Nama file nya: "Manfaatkan Usia Untuk al Qur'an")
  
Perjalanan hidup ini sepenuhnya rahasia Allah. Kita hanya perlu tahu bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, sudah mengatur yang terbaik, dan memberikan hanya yang terbaik. Jalani hidup dengan percaya kepada Allah, ibadah sepenuh hati, dan pasrah akan KehendakNya. Sekuat mungkin lakukan apa yang diperintah, baik wajib maupun apa-apa yang menjadi sunnat, dan tinggalkan kemaksiatan dan dosa. Barangkali inilah dari sekian rahasia supaya hidup mengalir tenang, aman, dan banyak kemudahan.



Dan dalam hidup ini, ada saja kemudian peristiwa yang kurang mengenakkan terjadi di dalam hidup kita. Sehingga kemudian jadilah kita bahagian orang yang malah tambah dekat dengan Allah, atau sebaliknya, malah meratapi dan menyumpahi hidup ini. Ada orang-orang yang Allah bukakan jalan kedekatan dengan-Nya, justru karena beban hidup yang bukan kepalang berat dan besarnya. Tapi ada yang bertambah jauh dengan Allah sebab kesulitan hidupnya. Begitulah. Hidup ini isinya barangkali hanya ada dua pilihan; jalan lurus dan jalan sesat; jalan syukur atau jalan kufur; jalan ibadah atau jalan maksiat.

Ada seorang yang merasa ga bisa memberi apa-apa buat orang tuanya, lalu bergaul dengan para hedonis dan mengambil "manfaat semu" dari sana. Ia berikan orang tuanya dunia. Tapi ia korbankan kehormatan dengan menjadi pelacur misalnya; baik pelacur bener maupun yang samar. Namun ada juga mereka-mereka yang ketika tidak bisa memberikan apa-apa ke orang tuanya lalu ia tempuh jalan anak-anak saleh untuk orang tuanya. Tidak ada dunia yang dibawa ke orang tuanya, tapi kebaikan demi kebaikan mengalir untuknya. Dan ini juga kelak akan menghasilkan cahaya dunia untuk dia dan orang tuanya.

Ada keluarga dan anak istri yang disuapi dari harta haram. Bahagia hidup bergelimang dunia tanpa keluarga dan anak istrinya sadar disuapi dari rizki haram. Kelak, banyak sekali masalah di keluarga ini. Salah satunya bisa saja justru keluarga ini bisa kehilangan sang suami. Atau suami yang kehilangan anak istri, sebab satu dua kejadian.

Ada orang miskin yang mengambil hak-hak orang dan menempuh jalan judi sebagai jalan yang bisa mengubah kemiskinannya. Banyak orang miskin yang kemudian menjadikan tangannya sebagai wasilah meminta-minta. Tidak sedikit orang miskin yang menjadi mitra tangan-tangan kotor lalu menyambung hidupnya dengan rizki kotor. Sebab itulah hidup mereka ini tetap miskin dan bertambah miskin. Kalaupun kemudian mereka-mereka ini kaya, mereka akan tetap miskin. Allah akan buat hidupnya selalu kurang dan tak terpuaskan. Bahkan tidak sedikit mereka yang jadi miskin lagi setelah

Sementara itu, kita menemukan banyak juga orang miskin yang bertahan menjaga perutnya dari barang-barang yang haram. Ia kejar kemiskinannya itu dengan mempergiat bangun malam dan shalat dhuha. Ia prihatinkan diri dengan berpuasa sunnah. Dan ia jalankan hidup ini dengan ridha dan ikhlas. Bisa jadi hidupnya tetap miskin. Tapi Allah hadirkan ketenangan dalam hidupnya, rumah tangganya langgeng, rizkinya sedikit tapi jadi daging dan enak dimakan. Tidak berubah jadi penyakit. Petaka jarang sekali hadir di kehidupannya. Dan banyak kemudahan di tengah-tengah kekurangan; anak sakit, dikasih cepat sehat. Tanpa berobat. Anak kurang biaya, tapi Allah kirimkan beasiswa dari tangan orang lain. Tak punya kendaraan, tapi Allah hilangkan keperluan berkendaraan; bersaudara dekat-dekat, berkantor tinggal jalan kaki, dan lain-lain. Beda dengan sebagian dari kita, yang punya kendaraan, tapi Allah terbangkan ke sana kemari dengan kendaraannya itu, yang akhirnya malah bertambah-tambah jauh dari keluarga dan Allah. Bahkan Allah tambahkan kendaraan dengan kendaraan yang lebih hebat dan lebih mahal, yang malah menambah jauh dirinya dengan keluarga dan Allah.

Ada yang kepengen punya usaha, lalu mencari modal dari selain Allah. Sementara ada yang menggiatkan bangun malam dan dhuha, serta bersedekah. Ya, saya tidak sedikit menerima konselingan gagal bayar kredit. Usahanya halal, cara-cara usahanya benar. Ternyata sayang, di proses kreditnya, ada kebohongan dan suap. Banyak data dimanipulasi supaya kredit bisa cair, dan tidak jarang melakukan praktik suap walo sekedar dengan menjanjikan sesuatu bagi officernya. Atau ada yang prosesnya benar, ikhtiarnya benar, usahanya halal, tapi tetap bangkrut juga. Selidik punya selidik, shalat wajibnya jadi keteteran, shalat-shalat sunnahnya malahan jadi hilang. Hubungan dengan orang tua jadi jauh, dengan adik-adik malah tak ada silaturahim, dengan tetangga menjadi tak lagi dekat. Jika demikian, maka dicabut usahanya oleh Allah adalah jauh lebih baik. Sadari lagi saja, minta ampun sama Allah, dan ikhtiar lagi yang benar. Insya Allah, Allah akan berkenan memberi lagi apa yang dicabut-Nya. Ada di antara mereka yang bertahan tidak mengapa tidak diberi modal lagi untuk pengembangan usaha. Mereka merasa cukup. Sehingga tidak perlu mereka ini merekayasa laporan keuangan dan aset. Ternyata kemudian Allah berikan keselamatan buat mereka dan usahanya berkembang juga dengan izin dan takdir-Nya.

Ada orang yang kepengen kerja. Ia tempuh jalan-jalan kotor. Ia siapkan jalan pelicin. Dan tidak jarang perbuatannya itu yang melahirkan orang-orang kotor yang tadinya bersih. Pekerjaan ia dapatkan, namun keberkahan Allah hilangkan. Punya duit lebih dari tabungan setiap kali kerja, lalu Allah giring dia untuk membeli kendaraan. Baru sebulan dipake itu kendaraan, sudah mengantarkan maut untuk keluarganya. Mobil ringsek, keluarga celaka, uang terbuang sia-sia. Sementara ada yang meminta kepada Allah pekerjaan. Ia bertahan untuk tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membuat Allah murka. Ia minta sama Allah lewat jalan ibadah. Ada yang belum Allah berikan pekerjaan, namun Allah tetap tanggung rizkinya dan hidupnya tetap mulia. Ga jadi hina sebab tak ada pekerjaan. Saya pun tidak sedikit menemukan yang begini ini. Tidak kerja, namun Allah menyediakan keperluan hidup baginya. Ia tidak menjadi beban buat orang lain, sebab ia tidak meminta. Banyaklah keanehan dari matematika dan mekanisme hidup ini.

Monday, October 22, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0133 Film Kun Fayakuun


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Film Kun Fayakuun
Seri Materi : Seri 33 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Ada
Tugas: Tidak

Dalam materi kuliah ke-33 ini akan disampaikan dalam bentuk video yang disampaikan langsung oleh Ustadz Yusuf Mansur. Serta dalam video ini juga Anda dapat menyaksikan film Kun Fayakuun the Movie. Demi mempermudah Anda dalam menyaksikan video ini, Anda dapat juga mendownload video ini di youtube agar dapat menyaksikannya secara offline Bila Anda kesulitan untuk mendownload atau bahkan melihat secara online Film Kun Fayakuun the Movie ini, maka Anda dapat memesan DVDnya secara online di Belanja Online Wisatahati (www.gerai-online.com).

Friday, October 19, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0132 Rezeki itu Asli dari Allah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Rizki itu Asli dari Allah
Seri Materi : Seri 32 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Ada
Tugas: Tidak


Rizki itu Asli Dari Allah



Kalau Allah sudah berkenan memberi, maka DIA bisa memberi darimana saja. Tidak mesti dari tangan kita dan atau dari jalan yang kita usahakan.


Sampe semalam, saya ga bisa nulis. Sms saya kepada web admin saya sertakan di tulisan ke-32 ini. Alhamdulillah, ini ada dorongan dari dalam tubuh dan pikiran saya yang mengatakan bahwa pagi ini saya bisa menulis kembali. Banyak hikmah dari kejadian ini. Bahkan saya sudah berkeinginan meliburkan lagi sampe tanggal 30 November. Bukan apa, agar saya berkesempatan dulu untuk tafakkur sebelum melanjutkan KuliahOnline ini lagi. Tapi alhamdulillah, mudah-mudahan Allah sudah berkenan lagi mengizinkan dan memudahkan saya untuk kembali lagi mengajar.


***


Dalam perjalanan kehidupan ini, Allah memang kerap kita lupakan. Ada banyak orang yang begitu mudah mencari pertolongan kepada orang lain lalu menamakannya ikhtiar. Sementara itu, ada yang tauhidnya kuat sekali. Ada yang karena ilmu, ada yang karena kebiasaan, ada yang karena karakter, ada yang karena lingkungan, dan ada pula yang karena pengalaman. Dia cari dulu Allah dan ia bertahan dengan prinsipnya.

Salah satu kisah yang saya kenal adalah kisah seorang penjual kaca. Kisah ini saya naikkan menjadi film layar lebar. Sebab memang dia menginspirasikan saya sekali tentang "rizki itu di tangan Allah". Penjual kaca ini bagus sekali tauhidnya. Karena itulah kemudian Allah hidangkan buatnya apa yang ia perlukan, kendati kita sama tahu dari tayangan film itu bahwa ikhtiar lewat tangannya tidak berhasil. Itu semua terjadi sebab ia meyakini rizki itu dari Allah, dan meyakini pertolongan itu hanyalah milik Allah.

Betul saudara-saudaraku semua. Kalau ditanya kepada saudara-saudara semua, rizki di tangan siapa? Mesti jawabannya sama. Semua akan menjawab rizki itu di tangan Allah. Kalau memang jawaban itu adalah jawaban yang benar-benar datangnya dari pengetahuan, iman dan kejujuran, mestinya tidak ada yang berani nyolong, tidak ada yang berani nipu, tidak ada yang berani tidak jujur. Selain tidak berani, juga tidak merasa perlu. Mengapa? Lah, kalau di tangan Allah, kenapa mesti begitu-begitu amat. Kan tinggal mendekatkan diri kepada Allah saja, maka lalu terbukalah rizki itu. Kenyataannya? Sebagian kita "tidak percaya" bahwa rizki itu dari Allah. Sehingga masih mencari lewat jalan-jalan yang bukan Jalan-Nya, dan masih mencari dengan cara-cara yang bukan dengan Cara-Nya.

Sebagian yang menjawab bahwa rizki itu dari Allah, pun kurang meyakinkan bila dilihat dari ibadahnya. Ngakunya, iya. Bahwa semua juga mengaku rizki itu dari Allah. Pertanyaan selanjutnya, kalau memang tahu dan sadar rizki itu dari Allah, mengapa lalu meninggalkan-Nya? Melupakan-Nya? Melalaikan-Nya? Atau minimal, mengapa tidak terlalu mengistimewakan-Nya?

Sederhana saja contohnya.

Azan berkumandang. Tanda Yang Memberi Rizki, memanggil. Apa yang terjadi? Saudara seperti tidak mengenal rizki yang saudara makan dari Allah. Cuek saja. Tidak bergegas. Tidak takut akan tidak dibagi rizki. Denger azan, biasa saja.

Tuesday, October 16, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0131 Tahu Kemana Melangkah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Tahu Kemana Melangkah
Seri Materi : Seri 31 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Tahu Kemana Melangkah


Tidak semestinya buat orang yang beriman
tidak tahu kemana dia melangkah.


November tahun 2001, saya bahagia betul istri saya akan melahirkan. Tapi kami tidak ada uang saat itu untuk biaya persalinan. Kira-kira tinggal sepekan istri saya menulis di diarinya satu keluhan yang hanya ia simpan untuk Allah. Kebetulan saya baca itu diari. Isinya kira-kira tentang kegelisahan seorang istri yang suaminya belum juga kunjung memiliki biaya untuk persalinan.

Di usia kandungan 8-9 bulan, saya membawa istri saya berikhtiar mencari pertolongan manusia. Bukan dalam bentuk meminta uang, namun ikhtiar dalam bentuk usaha. Apa saja. Asal halal. Namun masya Allah, hasil ikhtiar harian, penuh hanya untuk makan saja. Ikhtiar-ikhtiar langit sementara, terus dilakukan. Satu yang saya ingat. Agak-agak pantang kami mengucap tidak ada uang. Kalimat ini terasa hanya pantas diucapkan pada Allah saja. Kami sedang belajar saat itu, biar Allah saja yang memilihkan dan menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk menolong kami. Pengalaman hidup saya di beberapa waktu terakhir mengajarkan bahwa kalau kami mendatangi manusia, itu hanya membuka aib kami saja bahwa kami sedang dalam keadaan tidak berdaya. Kami ingin sempurna pengaduan, hanya kepada Allah, dan bersandar hanya pada-Nya.

Jika mengingat kondisi tauhid saat-saat itu, nampaknya manis sekali untuk senantiasa diistiqamahi. Allah Maha Mendengar jeritan hati. Kitanya saja yang tak pandai menjaga kesabaran untuk tidak mengeluh dan tidak berhenti beribadah dan berdoa mengetuk pintu langit. Banyak manusia yang tak sabar dengan kondisi "injury time". Posisi kepepet senantiasa diyakini sebagai posisi yang sedang terjadi dalam hidupnya. Kami belajar, bahwa dengan betul-betul menyandarkan posisi kepada Allah, maka bisa jadi, istilah kepepet itulah garis finishnya.

Akhirnya, terjadilah persalinan itu. Sempurna. Lahir bayi yang sempurna. Bayi yang kelak di usia 7 tahun bermimpi bertemu dengan Rasulullah ketika akan menyatakan diri ingin menjadi penghafal al Qur'an. Ya, Wirda beberapa waktu yang lalu melihat Isamil dan Ishak, santri PPPA yang ditempatkan di Pesantren Tahfidz ­ Daarul Qur'an Internasional. Ismail dan Ishak ini anak kembar yang masya Allah. Menamatkan pendidikan SD nya di Daarul Huffaadz Lampung dengan mengantongi 23 & 25 juz. Kemudian melanjutkan ke Daarul Qur'an untuk penyempurnaan. Hafalannya dan suaranya, mengagumkan. Dalam waktu itu, Wirda yang 7 tahun yang lalu menjadi bayi yang kita bicarakan ini, pun melihat Atira, putri dari sahabat saya, Hadi Purnomo, Dirut Tirta, anak perusahaan dari Krakatau Steel. Atira ini istimewa juga. Masih kelas 4 SD di Daarul Huffadz, namun suaranya seenak Imam Makkah, dan sudah mengantongi 4 juz, plus jagoan puasa sunnah dan shalat tahajjud. Juga Wirda melihat anak-anak hebat lainnya di Daarul Qur'an. Rupanya ini menjadi motivasi. Satu malam ia menyatakan akan menyempurnakan hafalan Yaasiin dan al Ma'tsurat, plus juz 1 & 30. Ketika ditanya oleh saya, koq ga niat 30 juz saja? Wirda memberi jawabannya dengan senyum. Nah, malamnya Wirda tertidur. Dalam tidurnya ini ia bermimpi ketemu Rasulullah. Wirda lapor di pagi harinya, sambil menunjukkan catatan yang ia tulis dari hasil mimpinya semalam. Katanya, ia ditanya Rasulullah dengan pertanyaan yang hampir sama dengan saya, dan mendorong Wirda untuk hafal 30 juz. Wirda diajak Rasulullah shalat di rumah batunya Rasulullah tanpa Wirda tahu shalat apa itu namanya. Saya berkeyakinan Wirda shalat sunnah lihifdzil Qur'an. Satu shalat yang sering juga diamalkan oleh para penghafal al Qur'an.

Wirda, yang kini tumbuh sebagai anak yang saya banggakan, 7 tahun silam lahir dalam keadaan saya tidak megang uang sama sekali. Istilahnya, seperak juga ga ada.

Monday, October 15, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0130 Cari Allah Dulu (III)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (III)
Seri Materi : Seri 30 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak

Cari Allah Dulu (III)


Rizki yang tiada diduga. Begitulah kita mengenal satu jalan yang tiada diduga. Bukan didapat dari jalan yang kita tempuh. Melainkan jalan-jalan yang disediakan Allah.


Masih ingat ya kuliah kemaren? Bagaimana payahnya perjalanan Bu Yusuf mencari pertolongan manusia. Tiga orang yang dituju, mentok semua.

Akan beda buat Bu Yusuf andai beliau sedari awal ke Allah dulu. Cari Allah dulu. Insya Allah, akan ada bimbingan dari Allah untuk ikhtiarnya. Bisa jadi langkahnya salah, namun Allah belokkan jadi benar jalannya. Tidak seperti ikhtiar sebagian dari kita selama ini. Kelihatannya di jalan yang benar dan menghasilkan. Ga tahunya nihil. Atau malah tidak jarang malah buntung.

Baiklah, kita coba ilustrasikan bagaimana zig zag nya cara Allah menolong. Kita sering mendengar istilah "Min haitsu laa yahtasib". Ya, itulah yang dimaksud dengan "keadaan-keadaan yang tidak terduga". Seakan-akan datang begitu saja, hadir begitu saja. Sesungguhnya, kalau Allah sudah berkata Kun, Fayakuun. Subhaanallaah. Alangkah ruginya orang yang tidak mendatangi Allah. Dan sebenernya, tidak ada yang disebut tidak diduga-duga itu. Sebab sudah pasti terduga, yakni terduga bahwa datangnya pasti dari Allah. Hanya, dalam bentuk apa dan bagaimana, itu yang tidak pasti. Itu prerogatif Allah banget. Namun, saya bisa meyakinkan saudara-saudara semua, bahwa hukumnya pertolongan Allah itu, pasti adanya. Inilah yang saya maksudkan dengan "terduga'. Siapapun yang menempuh jalan-jalan pengundang pertolongan Allah, termasuk meniti jalan-jalan yang membuka pintu rizki, maka jalan-jalan yang tak terduga itu diduga pasti hadirnya.

Mari kita kembali ke Bu Yusuf. Boleh juga peserta KuliahOnline semuanya membuka kembali tulisan kemaren. Kali ini, kita ilustrasikan bahwa Bu Yusuf berlangkah langkahnya orang yang benar. Langkahnya orang yang bertauhid yang memiliki iman, memiliki keyakinan terhadap Sang Kuasa. Kita bayangkan, Bu Yusuf ini tahu kemana ia harus datang untuk pertama kalinya. Bahkan sebelum lagi ia berikhtiar. Yakni ke Allah `azza wajalla. Ikhtiar manusiaya, tetap. Ia ambil kertas dan pena. Ia mencoba mengingat, siapa di antara tiga nama yang dikenalnya yang bisa menolongnya keluar dari kesulitan keuangan. Ia tuliskan tiga nama ini di atas kertas: Bu Jameel, Bu Hendy, dan Bu Budi. Namun sebelum ia telpon satu satu ini orang, sebelum ia buka kalam sama ini orang, sebelum ia kemudian menyatakan diri sebagai orang yang butuh bantuan ini orang, ia menghadap dulu Allah.

Bu Yusuf shalat dhuha. Dan ia sabarkan diri untuk tidak dulu menghubungi salah satu dari ketiga nama yang ia tulis. Sebabnya satu. Ia merasa harus dulu menghubungi Allah.

Dengan bahasa sederhananya, Bu Yusuf shalat dhuha. Usai dhuha, ia bermunajat dengan menggunakan doanya shalat dhuha...

Innadh dhuhaa dhuhaa-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal `ishmata `ishmatuka...Sesungguhnya dhuha ini adalah dhuha-Mu, dst...

Sesungguhnya, ketika Bu Yusuf ini memanjatkan doa ini, ia seakan-akan mengatakan kepada Allah, ya Allah, tiga nama yang kutulis ini adalah hamba-hamba-Mu. Mereka tidak akan dapat memberikan pertolongan kalau Engkau tidak berkehendak dan tidak memberi izin. Ya Allah, kemanapun aku melangkah, kalau Engkau tidak membimbing, maka tidak akan aku ketemu jalan yang kumaksud. Ya Allah, aku akan menelpon ketiga orang ini. Siapa gerangan yang Engkau tunjuk sebagai perpanjangan tangan-Mu untuk menolong aku?

Gitu.

Itulah dhuha. Itulah kesejatian menghamba kepada Yang Maha Berkehendak. Kita tahu bahwa pusat segala pusat ya Allah. Kita datangi dulu DIA, supaya kita mendapatkan banyak kemudahan. Langkah pun tidak sia-sia.

Dan dengan Bu Yusuf ini shalat dhuha dan menunda diri untuk tidak dulu mengontak siapapun kecuali Allah dulu, maka sesungguhnya ia masuk ke dalam posisi yang disebut dengan ayat berikut ini:

"Yaa-ayyuhal ladziina aamanuus ta'iinuu bish shabri wash shalaah. Innallaaha ma'ash shaabiriin, Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan jalan shalat dan sabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(Qs. Al Baqarah: 153)

Lihat, Bu Yusuf menempuh jalan shalat dhuha. Satu pintu pengundang pertolongan ia datangi. Yaitu pintu shalat. Dan kemudian ia menyempurnakannya dengan memasuki pintu sabar. Ya, bukankah sebagaimana saya sebut di atas, yakni dengan tidak dulu buru-buru mengontak manusia adalah kesabaran kiranya?

Sunday, October 14, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0129 Cari Allah Dulu (II)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (II)
Seri Materi : Seri 29 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Cari Allah Dulu (II)


Kalau kita mengetuk pintu Allah, maka Pintu-Nya Allah itu yang ga pernah tertutup.
 Selalu terbuka.


Sebut saja ibu Yusuf, punya masalah keuangan. Ia belum belajar tauhid, bahwa ikhtiar itu memang satu keharusan, namun memulainya bersama Allah itu juga satu keharusan. Rizki di tangan Allah. Perkenan-Nya adalah Kehendak-Nya. Izin-Nya juga di tangan-Nya. Segala ikhtiar bisa berhasil bila Dia mengizinkan ikhtiar itu berhasil. Dan sebaliknya. Di barisan ayat-ayat kemaren dah sama kita pelajari. Di sini nanti sebagaimana yang kita bilang kemaren-kemaren, mau diajarkan: Carilah Allah dulu. Biarlah Dia yang membuka segala-galanya buat kita. Biarlah nanti Dia yang membimbing langkah kita. Biarlah Dia yang mengatur segalanya untuk kita. Yang demikian bila kita menyandarkan semua urusan kepada-Nya.

Jadi, disebut pasrah itu ternyata juga di depan. Bukan di belakang. Laa hawla itu sejak dari depan. Bukan ketika mentok baru menyebut laa hawla.

Sama seperti kebanyakan kita, ibu Yusuf ini lalu mengetuk pintu manusia. Ia ambil kertas, dan ia tulis siapa saja "kandidat" yang bisa ia mintakan pertolongan. Sebut saja juga ada tiga kandidat: ibu Jameel, ibu Hendy, ibu Budi. Semua ini dipikirnya Ibu Yusuf bisa memberinya pertolongan. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya: kehinaan, kemaluan, kesia-siaan, atau kalaupun tidak, ia akan jadi... kelamaan! He he he. Maaf ya. Emang begini koq. Kita lihat saja ilustrasi berikut ini;

"Hallo... Assalamu'alaikum... Ada Ibu jameel nya?" tanya Ibu yusuf dari ujung seberang telpon. Dalam "daftar kandidat" nama Ibu Jameel ini paling atas.

"Dari siapa? Ya, saya sendiri...," jawab ibu Jameel renyah. Ramah.

"Dari Ibu Yusuf, Bu..."

"Ibu Yusuf mana ya?" Suara Ibu Jameel mulai berubah agak-agak ga ramah. Barangkali bertanya sambil berkernyit.

"Eh, maaf. Saya Ibu Yusuf teman pengajian ibu. Di Ketapang."

"Oooohhh... Ibu Yusuf itu. Kenapa???!!! Mau pinjam uang lagi???!!!"

Lemaslah Ibu Yusuf ini. Memang benar ia mau minjam uang lagi. Dan memang benar ia punya hutang. Tadinya ia mau ngomong kalo masih boleh nambah, please dah tambahin. Ternyata kejadiannya malah ga ngenakin.

Saudara-saudaraku, ya begitu dah. Namanya juga manusia. Nolongin sekali, bisa. Nolong dua tiga kali, belum tentu. Apalagi kalau track-record kita ga begitu bagus. Kesempatan kedua belum tentu ada.

Hanya Allah yang ga peduli dengan status hamba-Nya. Mau dia itu sering mengecewakan Allah atau tidak, Allah selalu menerima. Dan hebatnya, selalu berkenan menolong. Cuma memang Allah lah yang lebih paham tentang kapan pertolongan-Nya Dia turunkan dan kapan doa seorang hamba dikabulkan.

Dan sebenernya, buat seorang muslim, ia pasti tahu dengan ilmunya, bahwa pertolongan Allah itu "sudah" diturunkan. Kalau tidak, tentu kita tidak selamat dengan dosa-dosa kita dan kesalahankesalahan kita. Justru karena pertolongan Allah lah kita ini masih diberi-Nya kesempatan hidup. Masih diberi-Nya waktu untuk memperbaiki kesalahan kita dan mengejar keburukan. Dan seorang muslim pun tahu bahwa ketika doa dipanjatkan, sesungguhnya saat itu saja sudah dikabulkan. Hanya dalam bentuknya yang lain. Kata Rasulullah, tidak ada satu doa pun yang dipanjatkan hamba Allah kecuali itu menjadi kebaikan buat dirinya sendiri. Bilamana Allah belum mengabulkan, maka Allah akan tolak bala dengan doa itu, di tempat yang ia tidak mintakan keselamatan. Dan atau Allah akan beri kebaikan di tempat yang tiada ia minta sebagai kebaikan baginya. Atau, Allah jadikan doa itu sebagai wasilah penambah derajatnya. Alhamdulillah, masya Allah, baik benar Allah ini. Teramat baik.

Wednesday, October 10, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0128 Cari Allah Dulu (I)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (I)
Seri Materi : Seri 28 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Cari Allah Dulu (I)


Banyak kesia-siaan dari ikhtiar kita,
sebab kita tidak melibatkan Allah.

Saya akan coba sodorkan beberapa kisah orang-orang yang melibatkan Allah, untuk menggambarkan bagaimana sih suasana hati dan pola hidup melibatkan Allah itu.

Sebelumnya, kita coba pelajari beberapa ayat berikut ini. Silahkan saudara-saudara peserta KuliahOnline ambil wudhu dan ambil al Qur'an terjemah. Buat perempuan-perempuan yang sedang haidh, niatkan belajar, agar tidak mengapa menyentuh dan membuka al Qur'an. Insya Allah (buat yang sedang haidh, atau ada yang tidak sepaham, ya ga usah buka al Qur'an kalo ragu, web admin):

"Iyaaka na'budu wa iyaaka nasta'iin. Ihdinash shirootol mustaqiem. Shirootol ladziina an'amta `alaihim ghoiril maghdhuubi `alaihim waladh-dhoolliin, kepada Engkau sahaja kami menyembah dan kepada Engkau sahaja kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau beri ni'mat bukan jalan orang-orang yang murkai dan bukan pula jalan yang sesat."
(Qs. Al Faatihah: 5-7)

"Qul huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad, katakanlah Dia lah Allah yang satu. Allah tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya."
(Qs. Al Ikhlaash: 1-4)

"Qul lillaahis syafaa'atu jamii'an. Lahuu mulkussamaawaati wal ardh wailaihi turja'uun, katakanlah hanya kepunyaan Allah saja pertolongan itu. Bagi-Nya Kekuasaan di langit dan di bumi, dan kepada-Nya kalian semua dikembalikan."
(Qs. Az Zumar: 44)

"Wa-iy-yamsaskallaahu falaa kaasyifa lahuu illaa huu. Wa-iy-yamsaska bikhoirin fahuwa `alaa kulli syai-in qadiir... Dan jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak akan ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri. Dan jika Allah sudah berkenan mendatangkan kebaikan buatmu, meski itu seperti tidak mungkin, maka ketahuilah Allah itu begitu Kuasa atas segala sesuatu."
(Qs. Al An'aam: 17)

"Maa yaftahillaahu linnaasi mir rahmatin falaa mumsika lahaa. Wamaa yumsik falaa mursila lahuu mim ba'dih. Wahuwal `aziizul hakiim... Apa-apa yang Allah bukakan dari satu rahmat untuk manusia, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Dan sebaliknya, jika Allah sudah menahannya, tidak akan ada yang bisa juga melepasnya. Dan Dia lah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Qs. Faathir: 2)

"Yaa-ayyuhan-naasudzkuruu ni'matallahi `alaikum. Hal min khaaliqin ghairullahi yarzuqukum minassamaa-i wal ardh. Laa ilaaha illaa huu. Fa-annaa tu'fakuun... Wahai manusia, ingatlah ni'mat Allah kepadamu. Apakah ada selain Allah yang memberikanmu rizki dari langit dan bumi? Tidak ada, kecuali Allah. Maka mengapakah kamu bisa berpaling?"
(Qs. Faathir: 3)

"Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal-ladzii yasyfa'u `indahuu illaa biidznih. Ya'lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum. Walaa yuhiithuuna bisyai-in min `ilmihii illaa bi maa syaa-a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifdzhuhumaa wahuwal `aliyyul adzhiim... Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa kecuali yang Allah kehendaki. Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung."
(Qs. Al Baqarah: 255)

"A-attakhidzuu min duunihii aa-lihatan. Iy-yuridnir rahmaanu bidhurrin laa tughni `annii syafaa'atuhum syai-an walaa yunqidzuun... Apakah kalian akan mengambil tuhan selain Allah? Jika Yang Maha Pengasih sudah menghendaki kemudharatan kepadaku niscaya pertolongan siapapun tidak akan memberi manfaat dan tidak pula bisa menyelamatkanku."
(Qs. Yaasiin: 23)

Berikut ada satu hadits yang mewakili juga pelajaran tauhid:

" `an Ibni `Abbaas radhiyallaahu `anhu kuntu khalfa Rasuulillaahi shallallaahu `alaihi wasallam wa qaala yaa ghulaam, innii u'allimuka bikalimaatin: ihfadzillaaha yahfadzka, fa-idzaa sa-alta fas-alillaah, fa-idzas ta'anta fasta'in billaah... dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata, aku pernah duduk di belakangnya ontanya Rasulullah dan beliau bersabda, yaa ghulaam... wahai anakku, maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat? Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jika kamu hendak meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu hendak memohon pertolongan, mintalah pertolongan dari Allah."

Dan kalau Allah sudah berkehendak menolong, Kun Fayakuun sifatnya:

"Innamaa qaulunaa lisyai-in idzaa aradnaahu an naquula lahuu kun fayakuun... Sesungguhnya perkataan Kami jika kami menghendakinya cukup bagi Kami dengan mengatakan Kun Fayakuun, jadi, maka jadilah!"
(Qs. An Nahl: 40)

Ada 7 tempat lagi di dalam al Qur'an yang mengandung "Kun Fayakuun", selain ayat ke-40 surah an Nahl di atas. Yaitu di: al Baqarah: 117, Aali `Imraan: 47, Aali `Imraan: 59, al An'aam: 73, Maryam: 35, Yaasiin: 82 (ini yang termasyhur) dan di al Mukmin: 68.

Coba saudara ambil al Qur'an terjemah, dan buka itu al Qur'an terjemah. Jelajahi satu demi satu ayat yang saya sertakan di lembara KuliahOnline hari ini. Pelan-pelan. Sampe meresap di hati. Insya Allah kita lanjutkan besok kuliahnya.

Waba'du, saya bisa mengajar saudara-saudara semua bisa menerjemahkan al Qur'an hanya sekali ketemu. Ya, hanya sekali ketemu, langsung bisa menerjemahkan al Qur'an. Ga perlu lancar baca tulis arab. Gimana caranya? Gampang, saya suruh saja saudara mencari al Qur'an terjemah. Nah, langsung bisa dah tuh menerjemahkan al Qur'an, he he he. Ya iyalah sebab kan udah ada terjemahannya. Maaf, ini hal sepele. Tapi sayangnya, bener-bener tidak semua muslim memiliki al Qur'an terjemahan.

Silakan coba jelajahi BelanjaOnline di web kesayangan saudara ini: www.wisatahati.com Insya Allah saudara bisa memesan al Qur'an terjemahan melalui web ini. Silahkan ya. Jangan sampe kitakita ini ga punya al Qur'an terjemah di rumah kita, dan di kantor kita. Bilamana perlu, kita hadiahkan al Qur'an untuk kanan kiri kita. Alhamdulillah.

Monday, October 8, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0127 Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Hadirkan Allah Dalam Kehidupan
Seri Materi : Seri 27 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Hadirkan Allah Dalam Kehidupan


Tidak sedikit manusia yang dis-orientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Tulisan ke depan akan menyoroti bagaimana hidup dengan berpolakan tauhid.

Termasuk perkara tauhid adalah menyandarkan semua urusan kepada Allah sahaja. Banyak orang berikhtiar, berikhtiar saja. Dia tidak melibatkan Allah. Sejalan-jalannya.

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullaah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia mendapatkan ilmunya. Sesiapa yang berusaha, berniaga, maka ia mendapatkan keuntungan. Sesiapa yang berobat, maka ia temukan kesembuhan. Kira-kira begitulah ragam sunnatullah-Nya. Meskipun ada sebaliknya yang juga merupakan sunnatullaah-Nya juga. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, maka di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan Allah, berarti ibadah dan keberkahan. Ikhtiarnya menjadi ibadah dan mengandung keberkahan. Sungguhpun ia tiada hasil.

Kelak akan ada juga pertanyaan, kedudukan ikhtiar di mana? Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Dan kelak juga kita akan belajar banyak kesia-siaan akhirnya terjadi sabab salah langkah menuju manusia, bukan menuju Allah.

Contoh, seseorang yang kepengen kerja. Ia lalu melayangkan surat lamaran pekerjaan tanpa mengucap basmalah, tanpa shalat dan doa terlebih dahulu, tanpa bersedekah di awal, bisa jadi, sesuai sunnatullah-Nya, ia mendapatkan pekerjaan itu. Misalkan sebab ia memang lulusan terbaik, banyak skilnya, bagus, multi-talent, dan punya performa yang mengagumkan. Namun, sebatas mendapatkan pekerjaan itu. Tidak mendapatkan Allah. Dan ini berarti tidak menjadi ibadah dan tidak menjadi keberkahan baginya. Seseorang yang sakit. Ia cari kesembuhan dengan berobat. Lalu ia bener-bener sembuh. Padahal ia tidak berdoa, keluarganya tidak shalat dan berdoa, tiada pengajian-pengajian yang digelar, tiada ibadah dah pokoknya, wes berobat ya berobat. Bahkan tanpa basmalah. Ini memang juga sunnatullah-Nya. Dan yang demikian ini berlaku juga buat mereka yang bahkan tidak ber-Tuhan sekalipun. Barangkali ia ketemu dokter yang tepat, ketemu obat yang berkesesuaian. Tapi sakitnya ini ga menjadi rahmat buatnya. Dengan sakitnya ia tiada ada menambah kedekatan diri dengan Allah.

Seorang yang berhutang, tapi ia penuh semangat. Ia tidak mau kehilangan motivasi hidup hanya lantaran hutang. Ia bangun spirit hidupnya. Ia bangun motivasi dirinya. Kemudian ia ikhtiar, subhaanallaah, secara dunia, ia bisa menjadi the winner, pemenang. Hutangnya bisa saja ia tundukkan. Sayangnya, ia tidak memulai segala ikhtiarnya dengan bismillah. Ibadah tiada ia tegakkan. Allah ia tidak percayai, bahkan barangkali ia malah menyalahkan gara-gara Allah nih ia berhutang. Bisa saja hal ini terjadi. Nah, terhadap yang begini, ikhtiarnya dan permasalahannya, tidak membawa nilai ibadah dan keberkahan. Biasa saja.

Tentu saja, tidak ada jaminan juga bahwa Anda-Anda yang ber-Tuhan Allah, lalu begitu saja mendapatkan kemudahan. Ya sama saja. Ikhtiar, proses, ya perlu dilakukan dan dilalui. Namun buat mereka-mereka yang melibatkan Allah, maka sebelum lagi semua pekerjaannya itu menghasilkan, ia sudah menang duluan. Dari kali langkah yang pertama, semua sudah menjadi ibadah. Dan seluruh tahapannya mengandung keberkahan. Masya Allah.

Bedanya di mana? Barangkali di nilai.

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0127 Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Hadirkan Allah Dalam Kehidupan
Seri Materi : Seri 27 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Hadirkan Allah Dalam Kehidupan


Tidak sedikit manusia yang dis-orientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Tulisan ke depan akan menyoroti bagaimana hidup dengan berpolakan tauhid.

Termasuk perkara tauhid adalah menyandarkan semua urusan kepada Allah sahaja. Banyak orang berikhtiar, berikhtiar saja. Dia tidak melibatkan Allah. Sejalan-jalannya.

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullaah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia mendapatkan ilmunya. Sesiapa yang berusaha, berniaga, maka ia mendapatkan keuntungan. Sesiapa yang berobat, maka ia temukan kesembuhan. Kira-kira begitulah ragam sunnatullah-Nya. Meskipun ada sebaliknya yang juga merupakan sunnatullaah-Nya juga. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, maka di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan Allah, berarti ibadah dan keberkahan. Ikhtiarnya menjadi ibadah dan mengandung keberkahan. Sungguhpun ia tiada hasil.

Kelak akan ada juga pertanyaan, kedudukan ikhtiar di mana? Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Dan kelak juga kita akan belajar banyak kesia-siaan akhirnya terjadi sabab salah langkah menuju manusia, bukan menuju Allah.

Contoh, seseorang yang kepengen kerja. Ia lalu melayangkan surat lamaran pekerjaan tanpa mengucap basmalah, tanpa shalat dan doa terlebih dahulu, tanpa bersedekah di awal, bisa jadi, sesuai sunnatullah-Nya, ia mendapatkan pekerjaan itu. Misalkan sebab ia memang lulusan terbaik, banyak skilnya, bagus, multi-talent, dan punya performa yang mengagumkan. Namun, sebatas mendapatkan pekerjaan itu. Tidak mendapatkan Allah. Dan ini berarti tidak menjadi ibadah dan tidak menjadi keberkahan baginya. Seseorang yang sakit. Ia cari kesembuhan dengan berobat. Lalu ia bener-bener sembuh. Padahal ia tidak berdoa, keluarganya tidak shalat dan berdoa, tiada pengajian-pengajian yang digelar, tiada ibadah dah pokoknya, wes berobat ya berobat. Bahkan tanpa basmalah. Ini memang juga sunnatullah-Nya. Dan yang demikian ini berlaku juga buat mereka yang bahkan tidak ber-Tuhan sekalipun. Barangkali ia ketemu dokter yang tepat, ketemu obat yang berkesesuaian. Tapi sakitnya ini ga menjadi rahmat buatnya. Dengan sakitnya ia tiada ada menambah kedekatan diri dengan Allah.

Seorang yang berhutang, tapi ia penuh semangat. Ia tidak mau kehilangan motivasi hidup hanya lantaran hutang. Ia bangun spirit hidupnya. Ia bangun motivasi dirinya. Kemudian ia ikhtiar, subhaanallaah, secara dunia, ia bisa menjadi the winner, pemenang. Hutangnya bisa saja ia tundukkan. Sayangnya, ia tidak memulai segala ikhtiarnya dengan bismillah. Ibadah tiada ia tegakkan. Allah ia tidak percayai, bahkan barangkali ia malah menyalahkan gara-gara Allah nih ia berhutang. Bisa saja hal ini terjadi. Nah, terhadap yang begini, ikhtiarnya dan permasalahannya, tidak membawa nilai ibadah dan keberkahan. Biasa saja.

Tentu saja, tidak ada jaminan juga bahwa Anda-Anda yang ber-Tuhan Allah, lalu begitu saja mendapatkan kemudahan. Ya sama saja. Ikhtiar, proses, ya perlu dilakukan dan dilalui. Namun buat mereka-mereka yang melibatkan Allah, maka sebelum lagi semua pekerjaannya itu menghasilkan, ia sudah menang duluan. Dari kali langkah yang pertama, semua sudah menjadi ibadah. Dan seluruh tahapannya mengandung keberkahan. Masya Allah.

Bedanya di mana? Barangkali di nilai.

Sunday, October 7, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0126 Bintang: We Are Not Game Over Yet


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Bintang: We Are Not Game Over Yet
Seri Materi : Seri 26 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Bintang
We Are Not Game Over Yet


Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allah di baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.

Yth., semua Peserta KuliahOnline, tertanggal hari ini, 29 Oktober 2008, saya akan mengikuti ujian kompre dan ujian baca kitab al Mahalli. Ini saya ikuti sebagai syarat kelengkapan kelulusan meraih gelar sarjana satu (S1) di UIN.

Semalam saya berhadapan dengan buku-buku yang sebisa mungkin saya baca untuk tambahan persiapan ujian-ujian pagi ini. Kitab Hasyiataani, atau yang lebih dikenal dengan al Mahalli (Kitab Fiqh), pun saya usahakan baca, khususnya bab-bab yang akan diujikan.

Dalam pada itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara semua: Peserta KuliahOnline. Saya tidak mau libur lagi, he he he. Kecuali memang ketika saya memang sengaja men-jeda. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya jeda dengan meminta semua peserta melihat-lihat kolom-kolom lain di Wisatahti.com. Saya menjeda perkuliahan, untuk memberi kesempatan dan mendorong saudara peserta semua untuk menjelajahi isi web. Khususnya kolom interaksi sms dan artikel lepas.

Jadi, semalam, ketika saya selesai menelaah buku dan kitab yang akan diujikan, saya mencoba berakrab-akrab dengan komputer. Tapi masya Allah, di pondok ada sedikit masalah. Masalah rumah pembina, rumah asaatidz.

Pesantren menyewa satu rumah yang cukup besar, untuk dijadikan rumah-rumah tempat tinggal para ustadznya. Disewalah ini rumah selama 3 tahun. Tahu-tahu, belum lagi genap setengah tahun rumah ini disewa, sudah ada yang mendatangi untuk dikosongkan. Sebab katanya udah dijual. Kebetulan saya sedang belajar Hukum Perikatan. Belajar tentang Akad. Belajar tentang Bisnis Islami. Lumayan terasa ilmu ini hidupnya di masyarakat. Perbuatan si pemilik rumah, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Namun, getaran hati mengatakan, mesti ada apa-apa nih. Maksud saya, mesti si pemilik rumah sedang mengalami satu dua hal peristiwa besar atau kesulitan dalam hidupnya, sehingga ia menempuh jalan ini.

Wise, atau kebijakan, atau kebijaksanaan, juga adalah sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini, juga di dalam urusan hukum. Mirip seperti `Umar bin Khattab yang melepas seorang pencuri sebab karena lapar, dan si pencuri berjanji akan bertaubat. Saya panggillah si pemilik rumah. Kebetulan, rumah dia pribadi, saya beli. Juga buat pembina/asaatidz. Jadi, rumah ini ada dua. Satu, rumah yang saya beli, dan satu yang saya kontrak. Di dalam rumah pribadi dia pun (yang saya beli), ada bagian rumah yang dikontrakkan. Tapi seingat saya, saya mengajak ngobrol si pengontrak ini, bersama-sama pemilik awalnya. Saya beritahu bahwa rumah ini sudah dibeli, dan saya persilahkan orang tersebut meneruskan sewanya sampe tahun yang sudah ia bayar. Selanjutnya, urusannya ke saya (ke pesantren). Dan saya pun menyatakan akan memberi kesempatan untuk terus melanjutkan sewaannya itu kalo dia suka, kalo dia betah. Ternyata si penyewa ini sudah sewa selama dua tahun. Dia tidak keberatan keluar, asal diganti utuh uang sewanya. Alhamdulillah, ada mufakat. Pesantren mengembalikan uang sewanya itu, tanpa memotong biaya beli rumah itu.

Thursday, October 4, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0125 Allah Maha Pemurah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Allah Maha Pemurah
Seri Materi : Seri 25 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Panen Amal


Di Kuliah 22, dikupas tentang poin-poin keburukan kita. Yang dengannya saya ingin membuka mata, jika ada seseorang berdoa dan beramal, lalu belum kunjung selesai juga masalahnya, please, jangan cepat-cepat putus asa. Lihat-lihat juga kelakuan kita sebelum mengambil jalannya orang-orang yang baik. Apabila ternyata kita-kita ini termasuk orang yang rajin mengumpulkan poin keburukan, alias senang melakukan maksiat, keburukan dan dosa, maka ya banyak-banyak bersyukur saja kepada Allah. Kenapa mesti banyak bersyukur? Ya, sebab dipanjangkannya umur kita saja , sudah merupakan karunia dari Allah. Dengan itu, kita bisa memperbaharui iman kita, bisa bertaubat, bisa kemudian mengejar ketertinggalan kita. Dan karunia bisa bertaubat sendiri adalah satu karunia yang masya Allah, mahal sekali. Teramat mahal malah. Banyak orang yang tiada sempat bertaubat, tapi kita diberi-Nya kesempatan bertaubat. Dan tiada yang bertaubat kecuali itu adalah untuk kebaikannya sendiri.

"... Wa man tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi. Wa ilallaahil mashiir,
Dan barangsiapa yang menyucikan diri, sesungguhnya ia menyucikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali.”
(Qs. Faathir: 18)

"Fa-almahaa fujuuraha wataqwaahaa. Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan.
Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang mengotorinya."
(Qs. asy Syams: 8-10)

Dalam satu dua masa libur yang saya tambah panjangkan masa liburnya nih KuliahOnline, saya meminta kepada semua Peserta KuliahOnline untuk menjelajahi kolom-kolom lain di Wisatahati.com. Ada saya suruh peserta untuk membuka artikel-artikel lepas dan kolom-kolom sms jamaah. Antara lain maksudnya untuk melihat-lihat yang sekorelasi dengan kuliah kita ini.

Wednesday, October 3, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0124 Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup
Seri Materi : Seri 24 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup


Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah.
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah.
Dan bila kita sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua.
Perjalanan waktu akan membuktikan itu.
Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.


Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman. Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis KuliahOnline ini.

Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan "bersama kesulitan", sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi "bisa menulis", inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat. Disebut bukan satu-satunya, sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts bin-ni'mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai ustadz. Sebagai da'i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal al Qur'an adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan ada itu cerita menghafalkan al Qur'an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul Qur'an dan PPPA Daarul Qur'an. Daarul Qur'an adalah sebuah nama yang saya berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur'an. Dan PPPA adalah suatu program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur'an. Dan tentu saja beragam nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya menikah, ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan. Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur. Bila ada yang mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia kan `alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia kan lahir dan besar di madrasah.

Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya. Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa yang begini ini.

Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran "nasab". Peran turunan. Tahadduts bin-ni'mah, saya lahir dari keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya. Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir, saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi; Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan. Ketika saya lahir, saya diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur'an dan seorang penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri (Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro Pengadaan al Qur'an dan ta'mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur'an, banyak mengelola al Qur'an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini semua.

Tuesday, October 2, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0123 Jauh Deketnya Kita Dengan Allah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Jauh Deketnya Kita Dengan Allah
Seri Materi : Seri 23 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Jauh Deketnya Kita Dengan Allah
Inget Dan Lalainya Kita Sama Allah


Yang disebut masalah itu bukan masalah yang dianggap masalah oleh manusia. Melainkan disebut bermasalah itu, kalau kita jauh dari Allah dan lupa sama Allah. Dan yang disebut anugerah adalah sebaliknya; kita deket dengan Allah dan ingat pada-Nya.


Saudaraku yang dirahmati Allah, beberapa kejadian kecil selama "libur", saya tuliskan di kolomkolom Non-KuliahOnline di Website ini. Silahkan melihat-lihat di artikel lepas maupun di sms-sms dengan jamaah. Mudah-mudahan ada benang merah dengan materi-materi KuliahOnline.

Saudaraku, beragam reaksi ketika peserta KuliahOnline membaca materi kuliah ke-22. Tapi baik, tanpa banyak kalam, kita bismillah memulai materi ke-23 ini. Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan ridha-Nya.

Setelah menelisik kesalahan-kesalahan saya, saya bukannya menyesal. Saat itu, dulu, saya malah jadi ikhlas menerima "kenapa saya susah". Istilahnya, saya mewajarkan diri saya mengapa saya jadi susah. Sebab hitungannya memang wajar saya susah. "Message" ini, sampe ke saya. Alhamdulillah. Sehingga kemudian saya fokus juga untuk mengejar ketertinggalan. Dan alhamdulillah, Allah sediakan banyak jalan untuk mengejar ketertinggalan ini. Apa jadinya kalau saya tidak menyadari? Yang paling parah adalah dosa tauhid. kita merasa Allah tidak akan pernah dekat dengan kita. Tidak jarang reaksi begini malah terjadi: Seseorang merasa Allah semakin menjauh ketika justru ia semakin mendekat.

Loh, memangnya ada? Begitu barangkali sebagian kita bertanya. Jawabannya, ya, ada.

Ada hadits qudsi yang isinya kurang lebih, jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, justru Allah segerakan keburukan buatnya. Supaya apa? Supaya segera terbebas ia dari kesalahankesalahannya, dari dosa-dosa. Insya Allah. Dan tentu saja, ada juga amalan yang bener-bener ngenolin dosa-dosa. Salah satunya adalah dengan bertaubat sebener-benernya taubat.

Nah, dalam satu dua kasus, atau malah tidak sedikit yang terjadi begini: ketika seseorang berjalan menuju ampunan-Nya, di tengah jalan ia malah menemui kendala-kendala baru, masalah-masalah baru, yang justru menambah bungkuk. Menambah berat. Tentu saja perlu diteliti lebih dalam lagi. Tapi bagi saya, jawaban yang sering saya lihat adalah justru dengan cara itu, Allah mempercepat masa bayar dari keburukan yang kita lakukan. Dan karenanya kita perlu berterima kasih kepada Allah. Saya pun demikian. Ada satu keanehan. Ketika saya jejek gas, injek pedal, lah lah lah, hutang saya malah tambah buanyak. Bertambah berkali-kali lipat.

Saat itulah saya teliti kehidupan saya. Kesimpulannya, ya kalimat-kalimat di atas itu. Sambil terus husnudzdzan kepada Allah, bahwa nanti selepas 0-0, Allah akan angkat derajat saya. Dan kepositifan itu, saya anggap menjadi doa juga. Akhirnya, saya jadi sustain, jadi sabar. Saya terimain aja apa yang terjadi. Termasuk ketika saya harus membayar dengan masuk penjara. Agak enteng terasa, sebab saya malah menganggap, makin cepat beban turun ke pundak saya, makin banyak beban yang saya pikul, akan semakin cepat pula keringanan itu saya dapat. Dan insya Allah saya tahu, Allah pun tentu tidak akan memikulkan beban buat hamba-Nya kecuali yang bisa hamba-Nya itu pikul. Artinya, ambang batas maksimal akan terjadi, dan tidak akan pernah terjadi melewati ambang batas itu. Penerimaan terhadap segala kejadian, keikhlasan menjalani setiap peristiwa, rasanya menjadi teman yang meringankan perjalanan hidup. Jarang orang yang bisa menerima keadaannya; keadaan sedang di-PHK, sedang susah, sedang berhutang, sedang sakit, sedang malang, dan sedang sulit di kesulitan yang umumnya dirasakan orang umum sebagai satu kesulitan.

Jarang orang yang memandang bahwa kesulitan itu adalah anugerah. Bahwa bersama kesulitan itu ada Kemurahan Allah, ada Kebaikan Allah, ada Rahmat Allah. Kebanyakan orang memilih untuk menambah dirinya untuk lebih lagi berduka; meratapi, menyesali, atau bahkan mengatasnamakan "kasihan, menghancurkan orang lain". Misalnya, seseorang yang diburu petugas bank sebab hutangnya. Sementara, sebagai jaminan hutangnya itu adalah tanah ibunya, yang kemudian ditetapkan sita jaminan. Terhadap yang begini ini, mata rantai ketidaknerimaan atas takdir Allah, seperti ada di semua mata rantai orang-orang yang terlibat. Si anak merasa takut dengan saudara-saudaranya yang lain, saudara-saudaranya yang lain tidak menerima si saudara ini melakukan perbuatan bodoh yang merugikan ibu mereka, si ibu kemudian menyesali kenapa semua ini terjadi, petugas bank yang memberikan rekomendasi menyesal sudah memberikan ia kredit, si penghutang pun menambah lagi daftar panjang penyesalannya: kenapa sampe kenal si Fulan yang ia yakini sebagai penyebab segala kehancurannya, salah memilih bisnis, sampe kemudian menyalahkan ketidaktepatan waktu; masa krisislah, jatuhnya perekonomian nasional, resesi global, dsb. Allah, sama sekali "tidak dihitungnya". Padahal mata rantai keajaiban akan terjadi di setiap simpul mata rantai jaringan orang-orang yang disebut. Dalam kasus ini, andai keikhlasan ada di hati mereka, ya sudah, mau diapain lagi? Sudah terjadi. Mereka lalu memilih saling memahami, saling memaafkan, malah saling berpegangan tangan mengejar dan mengubah keburukan yang sudah trjadi, maka yang terjadi adalah Cahaya Allah di setiap etape berikutnya. Lalu kemudian tampak terang benderanglah manakala akhirnya mereka kemudian bisa bilang; Kalau dulu tidak terjadi krisis di keluarga kami, tidak akan lahir perusahaan ini. Gitulah permisalannya.

Bingung ya? Ya, coba baca lagi Materi Kuliah ke-22 ya. Biar agak nyambung. Baca nya pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Supaya nyambung.


***


Beberapa saat setelah saya menulis KuliahOnline materi ke-22, saya ketemu dengan seorang yang mengaku pengikut setia seorang ustadz ternama di negeri ini. Selama 10 tahun katanya beliau mengikuti ustadz ini. Ada kecocokan. Dan selama ini pula ia menebus kesalahannya. Maksudnya, sabab mengikuti orang baik, alhamdulillah ia bisa mengikuti pula kebiasaannya ustadz ini; Shalat shubuh berjamaah adalah hal minimal yang ia lakukan. Tapi ia mengaku, kesusahannya hanya berkurang sedikit. Ia hanya merasakan ketenangan. Tapi adapun masalahnya, tetap saja masalah. Hanya, ketika saya buru-buru mengoreksi, bahwa ketenangan itu hal termahal ketika bermasalah, ia aminkan. "Bener juga. Kalau ga tenang, ga bisa juga saya hidup enak". Namun ada yang menarik. Dia ini semula merasa ada sesuatu di hatinya yang selama ini ia tahan-tahan. Yakni pertanyaan seperti yang saya jelaskan di atas: "Kenapa ya? Saya kan udah berubah. Koq belum ada perubahan? Kenapa ya? Saya kan udah mengikuti jalannya orang baik, koq tetap saja ga berubah?". Pertanyaanpertanyaan ini ia coba redam. Ia menahan pertanyaan ini untuk tidak meledak. Subhaanallaah, inilah memang bisikan syeitan. Kerjaannya menggagalkan saja riyadhah seseorang.