Modul Kuliah : Kuliah
Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah
Tauhid
Judul Materi : Jadi
Ikhlas Ngejalanin Hidup
Seri Materi : Seri 24
dari 41 seri/esai
File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak
Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah.
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah.
Dan bila kita sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah
Allah buat kita semua.
Perjalanan waktu akan membuktikan itu.
Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.
Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau
berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di
tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.
Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan,
Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu.
Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya
akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan
judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak
mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa
putus asa. Saya butuh teman. Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar
pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya
terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya
yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai
kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku.
Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku
yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis
KuliahOnline ini.
Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah
yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis
bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan "bersama
kesulitan", sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang
tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada
Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah
kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi
buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa
akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi "bisa menulis",
inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan
datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya
percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah
seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat. Disebut bukan satu-satunya,
sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts
bin-ni'mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari
orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan
pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai
ustadz. Sebagai da'i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal al Qur'an
adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan
ada itu cerita menghafalkan al Qur'an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul
Qur'an dan PPPA Daarul Qur'an. Daarul Qur'an adalah sebuah nama yang saya
berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur'an. Dan PPPA adalah suatu
program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur'an. Dan tentu saja beragam
nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya
menikah, ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan.
Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur. Bila ada yang
mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia
kan `alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia
kan lahir dan besar di madrasah.
Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga
menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya,
guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka
insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua
urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan
juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang
dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang
serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya.
Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan
mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan
shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini
anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya
ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan
pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau
ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak
mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering
merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum
suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa
yang begini ini.
Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran
"nasab". Peran turunan. Tahadduts bin-ni'mah, saya lahir dari
keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut
riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di
Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu
tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada
pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya.
Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama
betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan
Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir,
saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi;
Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai
dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan. Ketika saya lahir, saya
diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur'an dan seorang
penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri
(Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro
Pengadaan al Qur'an dan ta'mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup
saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan
dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur'an, banyak mengelola al
Qur'an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat
beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah
lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga
pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah
tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan
rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan
di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini
semua.