Wednesday, October 3, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0124 Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup
Seri Materi : Seri 24 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup


Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah.
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah.
Dan bila kita sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua.
Perjalanan waktu akan membuktikan itu.
Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.


Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman. Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis KuliahOnline ini.

Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan "bersama kesulitan", sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi "bisa menulis", inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat. Disebut bukan satu-satunya, sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts bin-ni'mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai ustadz. Sebagai da'i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal al Qur'an adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan ada itu cerita menghafalkan al Qur'an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul Qur'an dan PPPA Daarul Qur'an. Daarul Qur'an adalah sebuah nama yang saya berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur'an. Dan PPPA adalah suatu program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur'an. Dan tentu saja beragam nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya menikah, ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan. Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur. Bila ada yang mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia kan `alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia kan lahir dan besar di madrasah.

Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya. Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa yang begini ini.

Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran "nasab". Peran turunan. Tahadduts bin-ni'mah, saya lahir dari keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya. Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir, saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi; Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan. Ketika saya lahir, saya diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur'an dan seorang penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri (Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro Pengadaan al Qur'an dan ta'mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur'an, banyak mengelola al Qur'an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini semua.

Tuesday, October 2, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0123 Jauh Deketnya Kita Dengan Allah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Jauh Deketnya Kita Dengan Allah
Seri Materi : Seri 23 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Jauh Deketnya Kita Dengan Allah
Inget Dan Lalainya Kita Sama Allah


Yang disebut masalah itu bukan masalah yang dianggap masalah oleh manusia. Melainkan disebut bermasalah itu, kalau kita jauh dari Allah dan lupa sama Allah. Dan yang disebut anugerah adalah sebaliknya; kita deket dengan Allah dan ingat pada-Nya.


Saudaraku yang dirahmati Allah, beberapa kejadian kecil selama "libur", saya tuliskan di kolomkolom Non-KuliahOnline di Website ini. Silahkan melihat-lihat di artikel lepas maupun di sms-sms dengan jamaah. Mudah-mudahan ada benang merah dengan materi-materi KuliahOnline.

Saudaraku, beragam reaksi ketika peserta KuliahOnline membaca materi kuliah ke-22. Tapi baik, tanpa banyak kalam, kita bismillah memulai materi ke-23 ini. Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan ridha-Nya.

Setelah menelisik kesalahan-kesalahan saya, saya bukannya menyesal. Saat itu, dulu, saya malah jadi ikhlas menerima "kenapa saya susah". Istilahnya, saya mewajarkan diri saya mengapa saya jadi susah. Sebab hitungannya memang wajar saya susah. "Message" ini, sampe ke saya. Alhamdulillah. Sehingga kemudian saya fokus juga untuk mengejar ketertinggalan. Dan alhamdulillah, Allah sediakan banyak jalan untuk mengejar ketertinggalan ini. Apa jadinya kalau saya tidak menyadari? Yang paling parah adalah dosa tauhid. kita merasa Allah tidak akan pernah dekat dengan kita. Tidak jarang reaksi begini malah terjadi: Seseorang merasa Allah semakin menjauh ketika justru ia semakin mendekat.

Loh, memangnya ada? Begitu barangkali sebagian kita bertanya. Jawabannya, ya, ada.

Ada hadits qudsi yang isinya kurang lebih, jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, justru Allah segerakan keburukan buatnya. Supaya apa? Supaya segera terbebas ia dari kesalahankesalahannya, dari dosa-dosa. Insya Allah. Dan tentu saja, ada juga amalan yang bener-bener ngenolin dosa-dosa. Salah satunya adalah dengan bertaubat sebener-benernya taubat.

Nah, dalam satu dua kasus, atau malah tidak sedikit yang terjadi begini: ketika seseorang berjalan menuju ampunan-Nya, di tengah jalan ia malah menemui kendala-kendala baru, masalah-masalah baru, yang justru menambah bungkuk. Menambah berat. Tentu saja perlu diteliti lebih dalam lagi. Tapi bagi saya, jawaban yang sering saya lihat adalah justru dengan cara itu, Allah mempercepat masa bayar dari keburukan yang kita lakukan. Dan karenanya kita perlu berterima kasih kepada Allah. Saya pun demikian. Ada satu keanehan. Ketika saya jejek gas, injek pedal, lah lah lah, hutang saya malah tambah buanyak. Bertambah berkali-kali lipat.

Saat itulah saya teliti kehidupan saya. Kesimpulannya, ya kalimat-kalimat di atas itu. Sambil terus husnudzdzan kepada Allah, bahwa nanti selepas 0-0, Allah akan angkat derajat saya. Dan kepositifan itu, saya anggap menjadi doa juga. Akhirnya, saya jadi sustain, jadi sabar. Saya terimain aja apa yang terjadi. Termasuk ketika saya harus membayar dengan masuk penjara. Agak enteng terasa, sebab saya malah menganggap, makin cepat beban turun ke pundak saya, makin banyak beban yang saya pikul, akan semakin cepat pula keringanan itu saya dapat. Dan insya Allah saya tahu, Allah pun tentu tidak akan memikulkan beban buat hamba-Nya kecuali yang bisa hamba-Nya itu pikul. Artinya, ambang batas maksimal akan terjadi, dan tidak akan pernah terjadi melewati ambang batas itu. Penerimaan terhadap segala kejadian, keikhlasan menjalani setiap peristiwa, rasanya menjadi teman yang meringankan perjalanan hidup. Jarang orang yang bisa menerima keadaannya; keadaan sedang di-PHK, sedang susah, sedang berhutang, sedang sakit, sedang malang, dan sedang sulit di kesulitan yang umumnya dirasakan orang umum sebagai satu kesulitan.

Jarang orang yang memandang bahwa kesulitan itu adalah anugerah. Bahwa bersama kesulitan itu ada Kemurahan Allah, ada Kebaikan Allah, ada Rahmat Allah. Kebanyakan orang memilih untuk menambah dirinya untuk lebih lagi berduka; meratapi, menyesali, atau bahkan mengatasnamakan "kasihan, menghancurkan orang lain". Misalnya, seseorang yang diburu petugas bank sebab hutangnya. Sementara, sebagai jaminan hutangnya itu adalah tanah ibunya, yang kemudian ditetapkan sita jaminan. Terhadap yang begini ini, mata rantai ketidaknerimaan atas takdir Allah, seperti ada di semua mata rantai orang-orang yang terlibat. Si anak merasa takut dengan saudara-saudaranya yang lain, saudara-saudaranya yang lain tidak menerima si saudara ini melakukan perbuatan bodoh yang merugikan ibu mereka, si ibu kemudian menyesali kenapa semua ini terjadi, petugas bank yang memberikan rekomendasi menyesal sudah memberikan ia kredit, si penghutang pun menambah lagi daftar panjang penyesalannya: kenapa sampe kenal si Fulan yang ia yakini sebagai penyebab segala kehancurannya, salah memilih bisnis, sampe kemudian menyalahkan ketidaktepatan waktu; masa krisislah, jatuhnya perekonomian nasional, resesi global, dsb. Allah, sama sekali "tidak dihitungnya". Padahal mata rantai keajaiban akan terjadi di setiap simpul mata rantai jaringan orang-orang yang disebut. Dalam kasus ini, andai keikhlasan ada di hati mereka, ya sudah, mau diapain lagi? Sudah terjadi. Mereka lalu memilih saling memahami, saling memaafkan, malah saling berpegangan tangan mengejar dan mengubah keburukan yang sudah trjadi, maka yang terjadi adalah Cahaya Allah di setiap etape berikutnya. Lalu kemudian tampak terang benderanglah manakala akhirnya mereka kemudian bisa bilang; Kalau dulu tidak terjadi krisis di keluarga kami, tidak akan lahir perusahaan ini. Gitulah permisalannya.

Bingung ya? Ya, coba baca lagi Materi Kuliah ke-22 ya. Biar agak nyambung. Baca nya pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Supaya nyambung.


***


Beberapa saat setelah saya menulis KuliahOnline materi ke-22, saya ketemu dengan seorang yang mengaku pengikut setia seorang ustadz ternama di negeri ini. Selama 10 tahun katanya beliau mengikuti ustadz ini. Ada kecocokan. Dan selama ini pula ia menebus kesalahannya. Maksudnya, sabab mengikuti orang baik, alhamdulillah ia bisa mengikuti pula kebiasaannya ustadz ini; Shalat shubuh berjamaah adalah hal minimal yang ia lakukan. Tapi ia mengaku, kesusahannya hanya berkurang sedikit. Ia hanya merasakan ketenangan. Tapi adapun masalahnya, tetap saja masalah. Hanya, ketika saya buru-buru mengoreksi, bahwa ketenangan itu hal termahal ketika bermasalah, ia aminkan. "Bener juga. Kalau ga tenang, ga bisa juga saya hidup enak". Namun ada yang menarik. Dia ini semula merasa ada sesuatu di hatinya yang selama ini ia tahan-tahan. Yakni pertanyaan seperti yang saya jelaskan di atas: "Kenapa ya? Saya kan udah berubah. Koq belum ada perubahan? Kenapa ya? Saya kan udah mengikuti jalannya orang baik, koq tetap saja ga berubah?". Pertanyaanpertanyaan ini ia coba redam. Ia menahan pertanyaan ini untuk tidak meledak. Subhaanallaah, inilah memang bisikan syeitan. Kerjaannya menggagalkan saja riyadhah seseorang.

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0122 Betapa Jauhnya Kita Dari Allah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Betapa Jauhnya Kita Dari Allah
Seri Materi : Seri 22 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak



Betapa Jauhnya Kita Dari Allah


Ada banyak hal yang menyenangkan hati di kehidupan ini, dan ada juga yang tidak menyenangkan. Tapi bagi seorang mukmin, semua keadaan akan menyenangkan hati.


Sebagaimana kita ridha menerima datangnya siang, kita kudu juga ridha menerima datangnya malam. Sebagaimana kita senang menjalani kehidupan yang terang, kita kudu juga siap dengan datangnya kegelapan. Betapapun ia sunnatullah di kehidupan ini. Satu hal yang harus kita yakini adalah di mana pun situasi kita berada, ada Allah yang senantiasa menemani. Susah senang adanya di hati. Gelap terang, bukan di mata. Barangkali, ikhlas menjalani hidup ini, pun merupakan pelajaran tauhid yang senantiasa akan diperlukan sebagai bekal di kehidupan ini.

Saudara-saudaraku peserta kuliah online yang berbahagia, RINDU rasanya saya ketemu dengan Saudara-saudara semua, salah satu partner terbaik saya dalam belajar tentang Allah, rasul-Nya, dan kehidupan. Bulan-bulan terakhir ini, Allah memberikan keluarga kami hidangan-Nya. Sama saja dengan siapapun di dunia ini, ada susah, ada senang. Dan saya kira semuanya adalah persoalan penerimaan terhadap hidup ini. Kalau kita terima, maka semua keadaan akan baik-baik saja, akan senang-senang saja.

Orang-orang yang punya hutang, misalnya, ketika ia kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa bayar hutang-hutangnya, ketakutan demi ketakutan akan menghantui kehidupannya. Takut dipenjara, takut ketahuan sama keluarga, takut dilecehkan tetangga dan saudara-saudara, takut kehilangan muka, takut merugikan orang lain (yang sebenernya sudah terjadi), dan takut sama kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya belum terjadi! Orang-orang ini takut sama bayang-bayangnya sendiri bahkan. Jadilah kemudian mereka gelap di tengah dunia yang semestinya terang. Sendirian di saat dunia ini begitu penuh dengan manusia. Kesepian di saat dunia ini ramai. Ga berani keluar rumah. Ga berani ketemu orang. Ga berani menegakkan muka. Bahkan ga berani membuka mata! Inginnya kabur saja, bahkan tidak jarang kepengennya mati saja.

Hidup lantas jadi cape, letih, lelah. Semakin dicari itu solusi, semakin membuahkan masalah-masalah baru. Orang-orang yang gagal ini kebanyakan sebab gagal memikirkan Allah, tuhannya. Yang ia pikirkan, nasibnya, nasibnya, nasibnya. Bukan memikirkan kelakuan-kelakuannya kepada Allah dan rizki-Nya yang selama ini kita sudah tidak syukur kepada-Nya.

Dan saya melihat saya. Saya tidak mau demikian itu terjadi dalam hidup saya. Saya lebih memilih ikhlas menjalani kesusahan, sebagai penerimaan rangkaian akibat dari kejauhan saya dari Allah. Betul, saya yakinkan diri saya, alih-alih saya memikirkan solusi, lebih baik akhirnya saya memikirkan Dia dan saya. Maksudnya, saya memikirkan bagaimana sih perjalanan kehidupan saya? Apakah ada Allah di sana? Seberapa dekat dan seberapa jauhnya saya? Ternyata masya Allah, saya menangis. Saya jauh dari Allah. Saya banyak lalainya hidup ini. Perjalanan saya sudah jauh melenceng dari tujuan diciptakan-Nya saya; yaitu untuk beribadah kepada-Nya.