Sunday, October 7, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0126 Bintang: We Are Not Game Over Yet


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Bintang: We Are Not Game Over Yet
Seri Materi : Seri 26 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Bintang
We Are Not Game Over Yet


Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allah di baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.

Yth., semua Peserta KuliahOnline, tertanggal hari ini, 29 Oktober 2008, saya akan mengikuti ujian kompre dan ujian baca kitab al Mahalli. Ini saya ikuti sebagai syarat kelengkapan kelulusan meraih gelar sarjana satu (S1) di UIN.

Semalam saya berhadapan dengan buku-buku yang sebisa mungkin saya baca untuk tambahan persiapan ujian-ujian pagi ini. Kitab Hasyiataani, atau yang lebih dikenal dengan al Mahalli (Kitab Fiqh), pun saya usahakan baca, khususnya bab-bab yang akan diujikan.

Dalam pada itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara semua: Peserta KuliahOnline. Saya tidak mau libur lagi, he he he. Kecuali memang ketika saya memang sengaja men-jeda. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya jeda dengan meminta semua peserta melihat-lihat kolom-kolom lain di Wisatahti.com. Saya menjeda perkuliahan, untuk memberi kesempatan dan mendorong saudara peserta semua untuk menjelajahi isi web. Khususnya kolom interaksi sms dan artikel lepas.

Jadi, semalam, ketika saya selesai menelaah buku dan kitab yang akan diujikan, saya mencoba berakrab-akrab dengan komputer. Tapi masya Allah, di pondok ada sedikit masalah. Masalah rumah pembina, rumah asaatidz.

Pesantren menyewa satu rumah yang cukup besar, untuk dijadikan rumah-rumah tempat tinggal para ustadznya. Disewalah ini rumah selama 3 tahun. Tahu-tahu, belum lagi genap setengah tahun rumah ini disewa, sudah ada yang mendatangi untuk dikosongkan. Sebab katanya udah dijual. Kebetulan saya sedang belajar Hukum Perikatan. Belajar tentang Akad. Belajar tentang Bisnis Islami. Lumayan terasa ilmu ini hidupnya di masyarakat. Perbuatan si pemilik rumah, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Namun, getaran hati mengatakan, mesti ada apa-apa nih. Maksud saya, mesti si pemilik rumah sedang mengalami satu dua hal peristiwa besar atau kesulitan dalam hidupnya, sehingga ia menempuh jalan ini.

Wise, atau kebijakan, atau kebijaksanaan, juga adalah sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini, juga di dalam urusan hukum. Mirip seperti `Umar bin Khattab yang melepas seorang pencuri sebab karena lapar, dan si pencuri berjanji akan bertaubat. Saya panggillah si pemilik rumah. Kebetulan, rumah dia pribadi, saya beli. Juga buat pembina/asaatidz. Jadi, rumah ini ada dua. Satu, rumah yang saya beli, dan satu yang saya kontrak. Di dalam rumah pribadi dia pun (yang saya beli), ada bagian rumah yang dikontrakkan. Tapi seingat saya, saya mengajak ngobrol si pengontrak ini, bersama-sama pemilik awalnya. Saya beritahu bahwa rumah ini sudah dibeli, dan saya persilahkan orang tersebut meneruskan sewanya sampe tahun yang sudah ia bayar. Selanjutnya, urusannya ke saya (ke pesantren). Dan saya pun menyatakan akan memberi kesempatan untuk terus melanjutkan sewaannya itu kalo dia suka, kalo dia betah. Ternyata si penyewa ini sudah sewa selama dua tahun. Dia tidak keberatan keluar, asal diganti utuh uang sewanya. Alhamdulillah, ada mufakat. Pesantren mengembalikan uang sewanya itu, tanpa memotong biaya beli rumah itu.

Thursday, October 4, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0125 Allah Maha Pemurah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Allah Maha Pemurah
Seri Materi : Seri 25 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Panen Amal


Di Kuliah 22, dikupas tentang poin-poin keburukan kita. Yang dengannya saya ingin membuka mata, jika ada seseorang berdoa dan beramal, lalu belum kunjung selesai juga masalahnya, please, jangan cepat-cepat putus asa. Lihat-lihat juga kelakuan kita sebelum mengambil jalannya orang-orang yang baik. Apabila ternyata kita-kita ini termasuk orang yang rajin mengumpulkan poin keburukan, alias senang melakukan maksiat, keburukan dan dosa, maka ya banyak-banyak bersyukur saja kepada Allah. Kenapa mesti banyak bersyukur? Ya, sebab dipanjangkannya umur kita saja , sudah merupakan karunia dari Allah. Dengan itu, kita bisa memperbaharui iman kita, bisa bertaubat, bisa kemudian mengejar ketertinggalan kita. Dan karunia bisa bertaubat sendiri adalah satu karunia yang masya Allah, mahal sekali. Teramat mahal malah. Banyak orang yang tiada sempat bertaubat, tapi kita diberi-Nya kesempatan bertaubat. Dan tiada yang bertaubat kecuali itu adalah untuk kebaikannya sendiri.

"... Wa man tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi. Wa ilallaahil mashiir,
Dan barangsiapa yang menyucikan diri, sesungguhnya ia menyucikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali.”
(Qs. Faathir: 18)

"Fa-almahaa fujuuraha wataqwaahaa. Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan.
Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang mengotorinya."
(Qs. asy Syams: 8-10)

Dalam satu dua masa libur yang saya tambah panjangkan masa liburnya nih KuliahOnline, saya meminta kepada semua Peserta KuliahOnline untuk menjelajahi kolom-kolom lain di Wisatahati.com. Ada saya suruh peserta untuk membuka artikel-artikel lepas dan kolom-kolom sms jamaah. Antara lain maksudnya untuk melihat-lihat yang sekorelasi dengan kuliah kita ini.

Wednesday, October 3, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0124 Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup
Seri Materi : Seri 24 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup


Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah.
Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah.
Dan bila kita sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua.
Perjalanan waktu akan membuktikan itu.
Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.


Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman. Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis KuliahOnline ini.

Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan "bersama kesulitan", sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi "bisa menulis", inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat. Disebut bukan satu-satunya, sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts bin-ni'mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai ustadz. Sebagai da'i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal al Qur'an adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan ada itu cerita menghafalkan al Qur'an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul Qur'an dan PPPA Daarul Qur'an. Daarul Qur'an adalah sebuah nama yang saya berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur'an. Dan PPPA adalah suatu program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur'an. Dan tentu saja beragam nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya menikah, ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan. Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur. Bila ada yang mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia kan `alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia kan lahir dan besar di madrasah.

Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya. Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa yang begini ini.

Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran "nasab". Peran turunan. Tahadduts bin-ni'mah, saya lahir dari keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya. Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir, saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi; Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan. Ketika saya lahir, saya diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur'an dan seorang penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri (Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro Pengadaan al Qur'an dan ta'mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur'an, banyak mengelola al Qur'an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini semua.