Modul Kuliah : Kuliah
Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah
Tauhid
Judul Materi : Bintang: We Are Not Game Over Yet
Seri Materi : Seri 26 dari
41 seri/esai
File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak
Bintang
We Are Not Game Over Yet
Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa
meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat,
percaya semua kejadian ini ada Allah di baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur
yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau
menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah
segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian
hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik
Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.
Yth., semua Peserta KuliahOnline, tertanggal hari ini, 29
Oktober 2008, saya akan mengikuti ujian kompre dan ujian baca kitab al Mahalli.
Ini saya ikuti sebagai syarat kelengkapan kelulusan meraih gelar sarjana satu
(S1) di UIN.
Semalam saya berhadapan dengan buku-buku yang sebisa mungkin
saya baca untuk tambahan persiapan ujian-ujian pagi ini. Kitab Hasyiataani,
atau yang lebih dikenal dengan al Mahalli (Kitab Fiqh), pun saya usahakan baca,
khususnya bab-bab yang akan diujikan.
Dalam pada itu, pikiran saya juga tertuju pada
saudara-saudara semua: Peserta KuliahOnline. Saya tidak mau libur lagi, he he
he. Kecuali memang ketika saya memang sengaja men-jeda. Seperti beberapa waktu
yang lalu, saya jeda dengan meminta semua peserta melihat-lihat kolom-kolom
lain di Wisatahti.com. Saya menjeda perkuliahan, untuk memberi kesempatan dan
mendorong saudara peserta semua untuk menjelajahi isi web. Khususnya kolom
interaksi sms dan artikel lepas.
Jadi, semalam, ketika saya selesai menelaah buku dan kitab
yang akan diujikan, saya mencoba berakrab-akrab dengan komputer. Tapi masya
Allah, di pondok ada sedikit masalah. Masalah rumah pembina, rumah asaatidz.
Pesantren menyewa satu rumah yang cukup besar, untuk
dijadikan rumah-rumah tempat tinggal para ustadznya. Disewalah ini rumah selama
3 tahun. Tahu-tahu, belum lagi genap setengah tahun rumah ini disewa, sudah ada
yang mendatangi untuk dikosongkan. Sebab katanya udah dijual. Kebetulan saya
sedang belajar Hukum Perikatan. Belajar tentang Akad. Belajar tentang Bisnis
Islami. Lumayan terasa ilmu ini hidupnya di masyarakat. Perbuatan si pemilik
rumah, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Namun, getaran hati mengatakan, mesti
ada apa-apa nih. Maksud saya, mesti si pemilik rumah sedang mengalami satu dua
hal peristiwa besar atau kesulitan dalam hidupnya, sehingga ia menempuh jalan
ini.
Wise, atau kebijakan, atau kebijaksanaan, juga adalah sesuatu
yang diperlukan dalam hidup ini, juga di dalam urusan hukum. Mirip seperti
`Umar bin Khattab yang melepas seorang pencuri sebab karena lapar, dan si
pencuri berjanji akan bertaubat. Saya panggillah si pemilik rumah. Kebetulan,
rumah dia pribadi, saya beli. Juga buat pembina/asaatidz. Jadi, rumah ini ada
dua. Satu, rumah yang saya beli, dan satu yang saya kontrak. Di dalam rumah
pribadi dia pun (yang saya beli), ada bagian rumah yang dikontrakkan. Tapi
seingat saya, saya mengajak ngobrol si pengontrak ini, bersama-sama pemilik
awalnya. Saya beritahu bahwa rumah ini sudah dibeli, dan saya persilahkan orang
tersebut meneruskan sewanya sampe tahun yang sudah ia bayar. Selanjutnya, urusannya
ke saya (ke pesantren). Dan saya pun menyatakan akan memberi kesempatan untuk
terus melanjutkan sewaannya itu kalo dia suka, kalo dia betah. Ternyata si
penyewa ini sudah sewa selama dua tahun. Dia tidak keberatan keluar, asal
diganti utuh uang sewanya. Alhamdulillah, ada mufakat. Pesantren mengembalikan
uang sewanya itu, tanpa memotong biaya beli rumah itu.