Wednesday, October 10, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0128 Cari Allah Dulu (I)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (I)
Seri Materi : Seri 28 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Cari Allah Dulu (I)


Banyak kesia-siaan dari ikhtiar kita,
sebab kita tidak melibatkan Allah.

Saya akan coba sodorkan beberapa kisah orang-orang yang melibatkan Allah, untuk menggambarkan bagaimana sih suasana hati dan pola hidup melibatkan Allah itu.

Sebelumnya, kita coba pelajari beberapa ayat berikut ini. Silahkan saudara-saudara peserta KuliahOnline ambil wudhu dan ambil al Qur'an terjemah. Buat perempuan-perempuan yang sedang haidh, niatkan belajar, agar tidak mengapa menyentuh dan membuka al Qur'an. Insya Allah (buat yang sedang haidh, atau ada yang tidak sepaham, ya ga usah buka al Qur'an kalo ragu, web admin):

"Iyaaka na'budu wa iyaaka nasta'iin. Ihdinash shirootol mustaqiem. Shirootol ladziina an'amta `alaihim ghoiril maghdhuubi `alaihim waladh-dhoolliin, kepada Engkau sahaja kami menyembah dan kepada Engkau sahaja kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau beri ni'mat bukan jalan orang-orang yang murkai dan bukan pula jalan yang sesat."
(Qs. Al Faatihah: 5-7)

"Qul huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad, katakanlah Dia lah Allah yang satu. Allah tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sekutu bagi-Nya."
(Qs. Al Ikhlaash: 1-4)

"Qul lillaahis syafaa'atu jamii'an. Lahuu mulkussamaawaati wal ardh wailaihi turja'uun, katakanlah hanya kepunyaan Allah saja pertolongan itu. Bagi-Nya Kekuasaan di langit dan di bumi, dan kepada-Nya kalian semua dikembalikan."
(Qs. Az Zumar: 44)

"Wa-iy-yamsaskallaahu falaa kaasyifa lahuu illaa huu. Wa-iy-yamsaska bikhoirin fahuwa `alaa kulli syai-in qadiir... Dan jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak akan ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri. Dan jika Allah sudah berkenan mendatangkan kebaikan buatmu, meski itu seperti tidak mungkin, maka ketahuilah Allah itu begitu Kuasa atas segala sesuatu."
(Qs. Al An'aam: 17)

"Maa yaftahillaahu linnaasi mir rahmatin falaa mumsika lahaa. Wamaa yumsik falaa mursila lahuu mim ba'dih. Wahuwal `aziizul hakiim... Apa-apa yang Allah bukakan dari satu rahmat untuk manusia, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Dan sebaliknya, jika Allah sudah menahannya, tidak akan ada yang bisa juga melepasnya. Dan Dia lah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Qs. Faathir: 2)

"Yaa-ayyuhan-naasudzkuruu ni'matallahi `alaikum. Hal min khaaliqin ghairullahi yarzuqukum minassamaa-i wal ardh. Laa ilaaha illaa huu. Fa-annaa tu'fakuun... Wahai manusia, ingatlah ni'mat Allah kepadamu. Apakah ada selain Allah yang memberikanmu rizki dari langit dan bumi? Tidak ada, kecuali Allah. Maka mengapakah kamu bisa berpaling?"
(Qs. Faathir: 3)

"Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal-ladzii yasyfa'u `indahuu illaa biidznih. Ya'lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum. Walaa yuhiithuuna bisyai-in min `ilmihii illaa bi maa syaa-a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifdzhuhumaa wahuwal `aliyyul adzhiim... Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa kecuali yang Allah kehendaki. Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung."
(Qs. Al Baqarah: 255)

"A-attakhidzuu min duunihii aa-lihatan. Iy-yuridnir rahmaanu bidhurrin laa tughni `annii syafaa'atuhum syai-an walaa yunqidzuun... Apakah kalian akan mengambil tuhan selain Allah? Jika Yang Maha Pengasih sudah menghendaki kemudharatan kepadaku niscaya pertolongan siapapun tidak akan memberi manfaat dan tidak pula bisa menyelamatkanku."
(Qs. Yaasiin: 23)

Berikut ada satu hadits yang mewakili juga pelajaran tauhid:

" `an Ibni `Abbaas radhiyallaahu `anhu kuntu khalfa Rasuulillaahi shallallaahu `alaihi wasallam wa qaala yaa ghulaam, innii u'allimuka bikalimaatin: ihfadzillaaha yahfadzka, fa-idzaa sa-alta fas-alillaah, fa-idzas ta'anta fasta'in billaah... dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata, aku pernah duduk di belakangnya ontanya Rasulullah dan beliau bersabda, yaa ghulaam... wahai anakku, maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat? Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jika kamu hendak meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu hendak memohon pertolongan, mintalah pertolongan dari Allah."

Dan kalau Allah sudah berkehendak menolong, Kun Fayakuun sifatnya:

"Innamaa qaulunaa lisyai-in idzaa aradnaahu an naquula lahuu kun fayakuun... Sesungguhnya perkataan Kami jika kami menghendakinya cukup bagi Kami dengan mengatakan Kun Fayakuun, jadi, maka jadilah!"
(Qs. An Nahl: 40)

Ada 7 tempat lagi di dalam al Qur'an yang mengandung "Kun Fayakuun", selain ayat ke-40 surah an Nahl di atas. Yaitu di: al Baqarah: 117, Aali `Imraan: 47, Aali `Imraan: 59, al An'aam: 73, Maryam: 35, Yaasiin: 82 (ini yang termasyhur) dan di al Mukmin: 68.

Coba saudara ambil al Qur'an terjemah, dan buka itu al Qur'an terjemah. Jelajahi satu demi satu ayat yang saya sertakan di lembara KuliahOnline hari ini. Pelan-pelan. Sampe meresap di hati. Insya Allah kita lanjutkan besok kuliahnya.

Waba'du, saya bisa mengajar saudara-saudara semua bisa menerjemahkan al Qur'an hanya sekali ketemu. Ya, hanya sekali ketemu, langsung bisa menerjemahkan al Qur'an. Ga perlu lancar baca tulis arab. Gimana caranya? Gampang, saya suruh saja saudara mencari al Qur'an terjemah. Nah, langsung bisa dah tuh menerjemahkan al Qur'an, he he he. Ya iyalah sebab kan udah ada terjemahannya. Maaf, ini hal sepele. Tapi sayangnya, bener-bener tidak semua muslim memiliki al Qur'an terjemahan.

Silakan coba jelajahi BelanjaOnline di web kesayangan saudara ini: www.wisatahati.com Insya Allah saudara bisa memesan al Qur'an terjemahan melalui web ini. Silahkan ya. Jangan sampe kitakita ini ga punya al Qur'an terjemah di rumah kita, dan di kantor kita. Bilamana perlu, kita hadiahkan al Qur'an untuk kanan kiri kita. Alhamdulillah.

Monday, October 8, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0127 Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Hadirkan Allah Dalam Kehidupan
Seri Materi : Seri 27 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Hadirkan Allah Dalam Kehidupan


Tidak sedikit manusia yang dis-orientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Tulisan ke depan akan menyoroti bagaimana hidup dengan berpolakan tauhid.

Termasuk perkara tauhid adalah menyandarkan semua urusan kepada Allah sahaja. Banyak orang berikhtiar, berikhtiar saja. Dia tidak melibatkan Allah. Sejalan-jalannya.

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullaah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia mendapatkan ilmunya. Sesiapa yang berusaha, berniaga, maka ia mendapatkan keuntungan. Sesiapa yang berobat, maka ia temukan kesembuhan. Kira-kira begitulah ragam sunnatullah-Nya. Meskipun ada sebaliknya yang juga merupakan sunnatullaah-Nya juga. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, maka di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan Allah, berarti ibadah dan keberkahan. Ikhtiarnya menjadi ibadah dan mengandung keberkahan. Sungguhpun ia tiada hasil.

Kelak akan ada juga pertanyaan, kedudukan ikhtiar di mana? Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Dan kelak juga kita akan belajar banyak kesia-siaan akhirnya terjadi sabab salah langkah menuju manusia, bukan menuju Allah.

Contoh, seseorang yang kepengen kerja. Ia lalu melayangkan surat lamaran pekerjaan tanpa mengucap basmalah, tanpa shalat dan doa terlebih dahulu, tanpa bersedekah di awal, bisa jadi, sesuai sunnatullah-Nya, ia mendapatkan pekerjaan itu. Misalkan sebab ia memang lulusan terbaik, banyak skilnya, bagus, multi-talent, dan punya performa yang mengagumkan. Namun, sebatas mendapatkan pekerjaan itu. Tidak mendapatkan Allah. Dan ini berarti tidak menjadi ibadah dan tidak menjadi keberkahan baginya. Seseorang yang sakit. Ia cari kesembuhan dengan berobat. Lalu ia bener-bener sembuh. Padahal ia tidak berdoa, keluarganya tidak shalat dan berdoa, tiada pengajian-pengajian yang digelar, tiada ibadah dah pokoknya, wes berobat ya berobat. Bahkan tanpa basmalah. Ini memang juga sunnatullah-Nya. Dan yang demikian ini berlaku juga buat mereka yang bahkan tidak ber-Tuhan sekalipun. Barangkali ia ketemu dokter yang tepat, ketemu obat yang berkesesuaian. Tapi sakitnya ini ga menjadi rahmat buatnya. Dengan sakitnya ia tiada ada menambah kedekatan diri dengan Allah.

Seorang yang berhutang, tapi ia penuh semangat. Ia tidak mau kehilangan motivasi hidup hanya lantaran hutang. Ia bangun spirit hidupnya. Ia bangun motivasi dirinya. Kemudian ia ikhtiar, subhaanallaah, secara dunia, ia bisa menjadi the winner, pemenang. Hutangnya bisa saja ia tundukkan. Sayangnya, ia tidak memulai segala ikhtiarnya dengan bismillah. Ibadah tiada ia tegakkan. Allah ia tidak percayai, bahkan barangkali ia malah menyalahkan gara-gara Allah nih ia berhutang. Bisa saja hal ini terjadi. Nah, terhadap yang begini, ikhtiarnya dan permasalahannya, tidak membawa nilai ibadah dan keberkahan. Biasa saja.

Tentu saja, tidak ada jaminan juga bahwa Anda-Anda yang ber-Tuhan Allah, lalu begitu saja mendapatkan kemudahan. Ya sama saja. Ikhtiar, proses, ya perlu dilakukan dan dilalui. Namun buat mereka-mereka yang melibatkan Allah, maka sebelum lagi semua pekerjaannya itu menghasilkan, ia sudah menang duluan. Dari kali langkah yang pertama, semua sudah menjadi ibadah. Dan seluruh tahapannya mengandung keberkahan. Masya Allah.

Bedanya di mana? Barangkali di nilai.

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0127 Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Hadirkan Allah Dalam Kehidupan
Seri Materi : Seri 27 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Hadirkan Allah Dalam Kehidupan


Tidak sedikit manusia yang dis-orientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Tulisan ke depan akan menyoroti bagaimana hidup dengan berpolakan tauhid.

Termasuk perkara tauhid adalah menyandarkan semua urusan kepada Allah sahaja. Banyak orang berikhtiar, berikhtiar saja. Dia tidak melibatkan Allah. Sejalan-jalannya.

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullaah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia mendapatkan ilmunya. Sesiapa yang berusaha, berniaga, maka ia mendapatkan keuntungan. Sesiapa yang berobat, maka ia temukan kesembuhan. Kira-kira begitulah ragam sunnatullah-Nya. Meskipun ada sebaliknya yang juga merupakan sunnatullaah-Nya juga. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, maka di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan Allah, berarti ibadah dan keberkahan. Ikhtiarnya menjadi ibadah dan mengandung keberkahan. Sungguhpun ia tiada hasil.

Kelak akan ada juga pertanyaan, kedudukan ikhtiar di mana? Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Dan kelak juga kita akan belajar banyak kesia-siaan akhirnya terjadi sabab salah langkah menuju manusia, bukan menuju Allah.

Contoh, seseorang yang kepengen kerja. Ia lalu melayangkan surat lamaran pekerjaan tanpa mengucap basmalah, tanpa shalat dan doa terlebih dahulu, tanpa bersedekah di awal, bisa jadi, sesuai sunnatullah-Nya, ia mendapatkan pekerjaan itu. Misalkan sebab ia memang lulusan terbaik, banyak skilnya, bagus, multi-talent, dan punya performa yang mengagumkan. Namun, sebatas mendapatkan pekerjaan itu. Tidak mendapatkan Allah. Dan ini berarti tidak menjadi ibadah dan tidak menjadi keberkahan baginya. Seseorang yang sakit. Ia cari kesembuhan dengan berobat. Lalu ia bener-bener sembuh. Padahal ia tidak berdoa, keluarganya tidak shalat dan berdoa, tiada pengajian-pengajian yang digelar, tiada ibadah dah pokoknya, wes berobat ya berobat. Bahkan tanpa basmalah. Ini memang juga sunnatullah-Nya. Dan yang demikian ini berlaku juga buat mereka yang bahkan tidak ber-Tuhan sekalipun. Barangkali ia ketemu dokter yang tepat, ketemu obat yang berkesesuaian. Tapi sakitnya ini ga menjadi rahmat buatnya. Dengan sakitnya ia tiada ada menambah kedekatan diri dengan Allah.

Seorang yang berhutang, tapi ia penuh semangat. Ia tidak mau kehilangan motivasi hidup hanya lantaran hutang. Ia bangun spirit hidupnya. Ia bangun motivasi dirinya. Kemudian ia ikhtiar, subhaanallaah, secara dunia, ia bisa menjadi the winner, pemenang. Hutangnya bisa saja ia tundukkan. Sayangnya, ia tidak memulai segala ikhtiarnya dengan bismillah. Ibadah tiada ia tegakkan. Allah ia tidak percayai, bahkan barangkali ia malah menyalahkan gara-gara Allah nih ia berhutang. Bisa saja hal ini terjadi. Nah, terhadap yang begini, ikhtiarnya dan permasalahannya, tidak membawa nilai ibadah dan keberkahan. Biasa saja.

Tentu saja, tidak ada jaminan juga bahwa Anda-Anda yang ber-Tuhan Allah, lalu begitu saja mendapatkan kemudahan. Ya sama saja. Ikhtiar, proses, ya perlu dilakukan dan dilalui. Namun buat mereka-mereka yang melibatkan Allah, maka sebelum lagi semua pekerjaannya itu menghasilkan, ia sudah menang duluan. Dari kali langkah yang pertama, semua sudah menjadi ibadah. Dan seluruh tahapannya mengandung keberkahan. Masya Allah.

Bedanya di mana? Barangkali di nilai.