Tuesday, October 16, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0131 Tahu Kemana Melangkah


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Tahu Kemana Melangkah
Seri Materi : Seri 31 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Tahu Kemana Melangkah


Tidak semestinya buat orang yang beriman
tidak tahu kemana dia melangkah.


November tahun 2001, saya bahagia betul istri saya akan melahirkan. Tapi kami tidak ada uang saat itu untuk biaya persalinan. Kira-kira tinggal sepekan istri saya menulis di diarinya satu keluhan yang hanya ia simpan untuk Allah. Kebetulan saya baca itu diari. Isinya kira-kira tentang kegelisahan seorang istri yang suaminya belum juga kunjung memiliki biaya untuk persalinan.

Di usia kandungan 8-9 bulan, saya membawa istri saya berikhtiar mencari pertolongan manusia. Bukan dalam bentuk meminta uang, namun ikhtiar dalam bentuk usaha. Apa saja. Asal halal. Namun masya Allah, hasil ikhtiar harian, penuh hanya untuk makan saja. Ikhtiar-ikhtiar langit sementara, terus dilakukan. Satu yang saya ingat. Agak-agak pantang kami mengucap tidak ada uang. Kalimat ini terasa hanya pantas diucapkan pada Allah saja. Kami sedang belajar saat itu, biar Allah saja yang memilihkan dan menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk menolong kami. Pengalaman hidup saya di beberapa waktu terakhir mengajarkan bahwa kalau kami mendatangi manusia, itu hanya membuka aib kami saja bahwa kami sedang dalam keadaan tidak berdaya. Kami ingin sempurna pengaduan, hanya kepada Allah, dan bersandar hanya pada-Nya.

Jika mengingat kondisi tauhid saat-saat itu, nampaknya manis sekali untuk senantiasa diistiqamahi. Allah Maha Mendengar jeritan hati. Kitanya saja yang tak pandai menjaga kesabaran untuk tidak mengeluh dan tidak berhenti beribadah dan berdoa mengetuk pintu langit. Banyak manusia yang tak sabar dengan kondisi "injury time". Posisi kepepet senantiasa diyakini sebagai posisi yang sedang terjadi dalam hidupnya. Kami belajar, bahwa dengan betul-betul menyandarkan posisi kepada Allah, maka bisa jadi, istilah kepepet itulah garis finishnya.

Akhirnya, terjadilah persalinan itu. Sempurna. Lahir bayi yang sempurna. Bayi yang kelak di usia 7 tahun bermimpi bertemu dengan Rasulullah ketika akan menyatakan diri ingin menjadi penghafal al Qur'an. Ya, Wirda beberapa waktu yang lalu melihat Isamil dan Ishak, santri PPPA yang ditempatkan di Pesantren Tahfidz ­ Daarul Qur'an Internasional. Ismail dan Ishak ini anak kembar yang masya Allah. Menamatkan pendidikan SD nya di Daarul Huffaadz Lampung dengan mengantongi 23 & 25 juz. Kemudian melanjutkan ke Daarul Qur'an untuk penyempurnaan. Hafalannya dan suaranya, mengagumkan. Dalam waktu itu, Wirda yang 7 tahun yang lalu menjadi bayi yang kita bicarakan ini, pun melihat Atira, putri dari sahabat saya, Hadi Purnomo, Dirut Tirta, anak perusahaan dari Krakatau Steel. Atira ini istimewa juga. Masih kelas 4 SD di Daarul Huffadz, namun suaranya seenak Imam Makkah, dan sudah mengantongi 4 juz, plus jagoan puasa sunnah dan shalat tahajjud. Juga Wirda melihat anak-anak hebat lainnya di Daarul Qur'an. Rupanya ini menjadi motivasi. Satu malam ia menyatakan akan menyempurnakan hafalan Yaasiin dan al Ma'tsurat, plus juz 1 & 30. Ketika ditanya oleh saya, koq ga niat 30 juz saja? Wirda memberi jawabannya dengan senyum. Nah, malamnya Wirda tertidur. Dalam tidurnya ini ia bermimpi ketemu Rasulullah. Wirda lapor di pagi harinya, sambil menunjukkan catatan yang ia tulis dari hasil mimpinya semalam. Katanya, ia ditanya Rasulullah dengan pertanyaan yang hampir sama dengan saya, dan mendorong Wirda untuk hafal 30 juz. Wirda diajak Rasulullah shalat di rumah batunya Rasulullah tanpa Wirda tahu shalat apa itu namanya. Saya berkeyakinan Wirda shalat sunnah lihifdzil Qur'an. Satu shalat yang sering juga diamalkan oleh para penghafal al Qur'an.

Wirda, yang kini tumbuh sebagai anak yang saya banggakan, 7 tahun silam lahir dalam keadaan saya tidak megang uang sama sekali. Istilahnya, seperak juga ga ada.

Monday, October 15, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0130 Cari Allah Dulu (III)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (III)
Seri Materi : Seri 30 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak

Cari Allah Dulu (III)


Rizki yang tiada diduga. Begitulah kita mengenal satu jalan yang tiada diduga. Bukan didapat dari jalan yang kita tempuh. Melainkan jalan-jalan yang disediakan Allah.


Masih ingat ya kuliah kemaren? Bagaimana payahnya perjalanan Bu Yusuf mencari pertolongan manusia. Tiga orang yang dituju, mentok semua.

Akan beda buat Bu Yusuf andai beliau sedari awal ke Allah dulu. Cari Allah dulu. Insya Allah, akan ada bimbingan dari Allah untuk ikhtiarnya. Bisa jadi langkahnya salah, namun Allah belokkan jadi benar jalannya. Tidak seperti ikhtiar sebagian dari kita selama ini. Kelihatannya di jalan yang benar dan menghasilkan. Ga tahunya nihil. Atau malah tidak jarang malah buntung.

Baiklah, kita coba ilustrasikan bagaimana zig zag nya cara Allah menolong. Kita sering mendengar istilah "Min haitsu laa yahtasib". Ya, itulah yang dimaksud dengan "keadaan-keadaan yang tidak terduga". Seakan-akan datang begitu saja, hadir begitu saja. Sesungguhnya, kalau Allah sudah berkata Kun, Fayakuun. Subhaanallaah. Alangkah ruginya orang yang tidak mendatangi Allah. Dan sebenernya, tidak ada yang disebut tidak diduga-duga itu. Sebab sudah pasti terduga, yakni terduga bahwa datangnya pasti dari Allah. Hanya, dalam bentuk apa dan bagaimana, itu yang tidak pasti. Itu prerogatif Allah banget. Namun, saya bisa meyakinkan saudara-saudara semua, bahwa hukumnya pertolongan Allah itu, pasti adanya. Inilah yang saya maksudkan dengan "terduga'. Siapapun yang menempuh jalan-jalan pengundang pertolongan Allah, termasuk meniti jalan-jalan yang membuka pintu rizki, maka jalan-jalan yang tak terduga itu diduga pasti hadirnya.

Mari kita kembali ke Bu Yusuf. Boleh juga peserta KuliahOnline semuanya membuka kembali tulisan kemaren. Kali ini, kita ilustrasikan bahwa Bu Yusuf berlangkah langkahnya orang yang benar. Langkahnya orang yang bertauhid yang memiliki iman, memiliki keyakinan terhadap Sang Kuasa. Kita bayangkan, Bu Yusuf ini tahu kemana ia harus datang untuk pertama kalinya. Bahkan sebelum lagi ia berikhtiar. Yakni ke Allah `azza wajalla. Ikhtiar manusiaya, tetap. Ia ambil kertas dan pena. Ia mencoba mengingat, siapa di antara tiga nama yang dikenalnya yang bisa menolongnya keluar dari kesulitan keuangan. Ia tuliskan tiga nama ini di atas kertas: Bu Jameel, Bu Hendy, dan Bu Budi. Namun sebelum ia telpon satu satu ini orang, sebelum ia buka kalam sama ini orang, sebelum ia kemudian menyatakan diri sebagai orang yang butuh bantuan ini orang, ia menghadap dulu Allah.

Bu Yusuf shalat dhuha. Dan ia sabarkan diri untuk tidak dulu menghubungi salah satu dari ketiga nama yang ia tulis. Sebabnya satu. Ia merasa harus dulu menghubungi Allah.

Dengan bahasa sederhananya, Bu Yusuf shalat dhuha. Usai dhuha, ia bermunajat dengan menggunakan doanya shalat dhuha...

Innadh dhuhaa dhuhaa-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal `ishmata `ishmatuka...Sesungguhnya dhuha ini adalah dhuha-Mu, dst...

Sesungguhnya, ketika Bu Yusuf ini memanjatkan doa ini, ia seakan-akan mengatakan kepada Allah, ya Allah, tiga nama yang kutulis ini adalah hamba-hamba-Mu. Mereka tidak akan dapat memberikan pertolongan kalau Engkau tidak berkehendak dan tidak memberi izin. Ya Allah, kemanapun aku melangkah, kalau Engkau tidak membimbing, maka tidak akan aku ketemu jalan yang kumaksud. Ya Allah, aku akan menelpon ketiga orang ini. Siapa gerangan yang Engkau tunjuk sebagai perpanjangan tangan-Mu untuk menolong aku?

Gitu.

Itulah dhuha. Itulah kesejatian menghamba kepada Yang Maha Berkehendak. Kita tahu bahwa pusat segala pusat ya Allah. Kita datangi dulu DIA, supaya kita mendapatkan banyak kemudahan. Langkah pun tidak sia-sia.

Dan dengan Bu Yusuf ini shalat dhuha dan menunda diri untuk tidak dulu mengontak siapapun kecuali Allah dulu, maka sesungguhnya ia masuk ke dalam posisi yang disebut dengan ayat berikut ini:

"Yaa-ayyuhal ladziina aamanuus ta'iinuu bish shabri wash shalaah. Innallaaha ma'ash shaabiriin, Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan jalan shalat dan sabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(Qs. Al Baqarah: 153)

Lihat, Bu Yusuf menempuh jalan shalat dhuha. Satu pintu pengundang pertolongan ia datangi. Yaitu pintu shalat. Dan kemudian ia menyempurnakannya dengan memasuki pintu sabar. Ya, bukankah sebagaimana saya sebut di atas, yakni dengan tidak dulu buru-buru mengontak manusia adalah kesabaran kiranya?

Sunday, October 14, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0129 Cari Allah Dulu (II)


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Cari Allah Dulu (II)
Seri Materi : Seri 29 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Cari Allah Dulu (II)


Kalau kita mengetuk pintu Allah, maka Pintu-Nya Allah itu yang ga pernah tertutup.
 Selalu terbuka.


Sebut saja ibu Yusuf, punya masalah keuangan. Ia belum belajar tauhid, bahwa ikhtiar itu memang satu keharusan, namun memulainya bersama Allah itu juga satu keharusan. Rizki di tangan Allah. Perkenan-Nya adalah Kehendak-Nya. Izin-Nya juga di tangan-Nya. Segala ikhtiar bisa berhasil bila Dia mengizinkan ikhtiar itu berhasil. Dan sebaliknya. Di barisan ayat-ayat kemaren dah sama kita pelajari. Di sini nanti sebagaimana yang kita bilang kemaren-kemaren, mau diajarkan: Carilah Allah dulu. Biarlah Dia yang membuka segala-galanya buat kita. Biarlah nanti Dia yang membimbing langkah kita. Biarlah Dia yang mengatur segalanya untuk kita. Yang demikian bila kita menyandarkan semua urusan kepada-Nya.

Jadi, disebut pasrah itu ternyata juga di depan. Bukan di belakang. Laa hawla itu sejak dari depan. Bukan ketika mentok baru menyebut laa hawla.

Sama seperti kebanyakan kita, ibu Yusuf ini lalu mengetuk pintu manusia. Ia ambil kertas, dan ia tulis siapa saja "kandidat" yang bisa ia mintakan pertolongan. Sebut saja juga ada tiga kandidat: ibu Jameel, ibu Hendy, ibu Budi. Semua ini dipikirnya Ibu Yusuf bisa memberinya pertolongan. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya: kehinaan, kemaluan, kesia-siaan, atau kalaupun tidak, ia akan jadi... kelamaan! He he he. Maaf ya. Emang begini koq. Kita lihat saja ilustrasi berikut ini;

"Hallo... Assalamu'alaikum... Ada Ibu jameel nya?" tanya Ibu yusuf dari ujung seberang telpon. Dalam "daftar kandidat" nama Ibu Jameel ini paling atas.

"Dari siapa? Ya, saya sendiri...," jawab ibu Jameel renyah. Ramah.

"Dari Ibu Yusuf, Bu..."

"Ibu Yusuf mana ya?" Suara Ibu Jameel mulai berubah agak-agak ga ramah. Barangkali bertanya sambil berkernyit.

"Eh, maaf. Saya Ibu Yusuf teman pengajian ibu. Di Ketapang."

"Oooohhh... Ibu Yusuf itu. Kenapa???!!! Mau pinjam uang lagi???!!!"

Lemaslah Ibu Yusuf ini. Memang benar ia mau minjam uang lagi. Dan memang benar ia punya hutang. Tadinya ia mau ngomong kalo masih boleh nambah, please dah tambahin. Ternyata kejadiannya malah ga ngenakin.

Saudara-saudaraku, ya begitu dah. Namanya juga manusia. Nolongin sekali, bisa. Nolong dua tiga kali, belum tentu. Apalagi kalau track-record kita ga begitu bagus. Kesempatan kedua belum tentu ada.

Hanya Allah yang ga peduli dengan status hamba-Nya. Mau dia itu sering mengecewakan Allah atau tidak, Allah selalu menerima. Dan hebatnya, selalu berkenan menolong. Cuma memang Allah lah yang lebih paham tentang kapan pertolongan-Nya Dia turunkan dan kapan doa seorang hamba dikabulkan.

Dan sebenernya, buat seorang muslim, ia pasti tahu dengan ilmunya, bahwa pertolongan Allah itu "sudah" diturunkan. Kalau tidak, tentu kita tidak selamat dengan dosa-dosa kita dan kesalahankesalahan kita. Justru karena pertolongan Allah lah kita ini masih diberi-Nya kesempatan hidup. Masih diberi-Nya waktu untuk memperbaiki kesalahan kita dan mengejar keburukan. Dan seorang muslim pun tahu bahwa ketika doa dipanjatkan, sesungguhnya saat itu saja sudah dikabulkan. Hanya dalam bentuknya yang lain. Kata Rasulullah, tidak ada satu doa pun yang dipanjatkan hamba Allah kecuali itu menjadi kebaikan buat dirinya sendiri. Bilamana Allah belum mengabulkan, maka Allah akan tolak bala dengan doa itu, di tempat yang ia tidak mintakan keselamatan. Dan atau Allah akan beri kebaikan di tempat yang tiada ia minta sebagai kebaikan baginya. Atau, Allah jadikan doa itu sebagai wasilah penambah derajatnya. Alhamdulillah, masya Allah, baik benar Allah ini. Teramat baik.