Modul Kuliah : Kuliah
Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah
Tauhid
Judul Materi : Tahu
Kemana Melangkah
Seri Materi : Seri 31
dari 41 seri/esai
File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak
Tahu Kemana Melangkah
Tidak semestinya buat
orang yang beriman
tidak tahu kemana dia
melangkah.
November tahun 2001, saya bahagia betul istri saya akan
melahirkan. Tapi kami tidak ada uang saat itu untuk biaya persalinan. Kira-kira
tinggal sepekan istri saya menulis di diarinya satu keluhan yang hanya ia
simpan untuk Allah. Kebetulan saya baca itu diari. Isinya kira-kira tentang
kegelisahan seorang istri yang suaminya belum juga kunjung memiliki biaya untuk
persalinan.
Di usia kandungan 8-9 bulan, saya membawa istri saya
berikhtiar mencari pertolongan manusia. Bukan dalam bentuk meminta uang, namun
ikhtiar dalam bentuk usaha. Apa saja. Asal halal. Namun masya Allah, hasil
ikhtiar harian, penuh hanya untuk makan saja. Ikhtiar-ikhtiar langit sementara,
terus dilakukan. Satu yang saya ingat. Agak-agak pantang kami mengucap tidak
ada uang. Kalimat ini terasa hanya pantas diucapkan pada Allah saja. Kami
sedang belajar saat itu, biar Allah saja yang memilihkan dan menggerakkan
hamba-hamba-Nya untuk menolong kami. Pengalaman hidup saya di beberapa waktu
terakhir mengajarkan bahwa kalau kami mendatangi manusia, itu hanya membuka aib
kami saja bahwa kami sedang dalam keadaan tidak berdaya. Kami ingin sempurna
pengaduan, hanya kepada Allah, dan bersandar hanya pada-Nya.
Jika mengingat kondisi tauhid saat-saat itu, nampaknya manis
sekali untuk senantiasa diistiqamahi. Allah Maha Mendengar jeritan hati.
Kitanya saja yang tak pandai menjaga kesabaran untuk tidak mengeluh dan tidak
berhenti beribadah dan berdoa mengetuk pintu langit. Banyak manusia yang tak
sabar dengan kondisi "injury time". Posisi kepepet senantiasa diyakini
sebagai posisi yang sedang terjadi dalam hidupnya. Kami belajar, bahwa dengan
betul-betul menyandarkan posisi kepada Allah, maka bisa jadi, istilah kepepet
itulah garis finishnya.
Akhirnya, terjadilah persalinan itu. Sempurna. Lahir bayi
yang sempurna. Bayi yang kelak di usia 7 tahun bermimpi bertemu dengan
Rasulullah ketika akan menyatakan diri ingin menjadi penghafal al Qur'an. Ya,
Wirda beberapa waktu yang lalu melihat Isamil dan Ishak, santri PPPA yang
ditempatkan di Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Internasional. Ismail dan
Ishak ini anak kembar yang masya Allah. Menamatkan pendidikan SD nya di Daarul
Huffaadz Lampung dengan mengantongi 23 & 25 juz. Kemudian melanjutkan ke
Daarul Qur'an untuk penyempurnaan. Hafalannya dan suaranya, mengagumkan. Dalam
waktu itu, Wirda yang 7 tahun yang lalu menjadi bayi yang kita bicarakan ini,
pun melihat Atira, putri dari sahabat saya, Hadi Purnomo, Dirut Tirta, anak
perusahaan dari Krakatau Steel. Atira ini istimewa juga. Masih kelas 4 SD di
Daarul Huffadz, namun suaranya seenak Imam Makkah, dan sudah mengantongi 4 juz,
plus jagoan puasa sunnah dan shalat tahajjud. Juga Wirda melihat anak-anak
hebat lainnya di Daarul Qur'an. Rupanya ini menjadi motivasi. Satu malam ia
menyatakan akan menyempurnakan hafalan Yaasiin dan al Ma'tsurat, plus juz 1
& 30. Ketika ditanya oleh saya, koq ga niat 30 juz saja? Wirda memberi
jawabannya dengan senyum. Nah, malamnya Wirda tertidur. Dalam tidurnya ini ia
bermimpi ketemu Rasulullah. Wirda lapor di pagi harinya, sambil menunjukkan
catatan yang ia tulis dari hasil mimpinya semalam. Katanya, ia ditanya Rasulullah
dengan pertanyaan yang hampir sama dengan saya, dan mendorong Wirda untuk hafal
30 juz. Wirda diajak Rasulullah shalat di rumah batunya Rasulullah tanpa Wirda
tahu shalat apa itu namanya. Saya berkeyakinan Wirda shalat sunnah lihifdzil
Qur'an. Satu shalat yang sering juga diamalkan oleh para penghafal al Qur'an.
Wirda, yang kini tumbuh sebagai anak yang saya banggakan, 7
tahun silam lahir dalam keadaan saya tidak megang uang sama sekali. Istilahnya,
seperak juga ga ada.