Modul Kuliah : Kuliah
Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah
Tauhid
Judul Materi : Sebuah
Keutamaan
Seri Materi : Seri 21 dari
41 seri/esai
File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak
Sebuah Keutamaan
Ibadah adalah salah
satu ikhtiar mendapatkan dunia.
Saya masih tertarik untuk membahas tentang "menempuh
jalan ibadah sebagai sebuah keutamaan".
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang
menyalahkan orang lain yang beribadah sebagai jalan ikhtiar mencari dunia-Nya
Allah. Saya lebih menyebutnya sebagai "sebuah keutamaan".
Ya, mencari dunia dengan jalan beribadah adalah sebuah
keutamaan.
Mengapa demikian?
Sebab bukankah mengikuti anjuran Allah dan Rasul-Nya adalah
juga ibadah? Dunia adalah milik Allah. Ketika Allah memerintahkan kita begini
dan begitu ketika kita mencari dunia milik-Nya, maka ini menjadi sebuah ibadah
yang sangat hebat. Di samping tentu menjadi sebuah wujud iman dan keyakinan
kepada-Nya. Itu'kan sebutan betawinya nurut, atau percaya.
Saudaraku, terhadap dokter saja, keyakinan kita bukan main
hebatnya. Ketika seorang dokter mengatakan, "Anda harus dioperasi
segera... dalam hitungan 24 jam!" Wah, kita akan terbirit-birit
mengiyakan. Andai kita tidak ada uang pun kita akan mengusahakan setengah mati,
pinjam sana pinjam sini. Kalau perlu, kita tinggalkan rumah kita, kita
korbankan kendaraan kita untuk mendapatkan uang buat operasi.
Ada ahli desain interior. Dia berkunjung ke rumah kita. Lalu
memberikan advisnya tentang tata ruang yang lebih membuat sirkulasi udara rumah
kita menjadi lebih bagus, maka insya Allah kita akan mengubah tata letak rumah
kita tersebut andai memang kita ada uang. Atau malah jangan-jangan kepikiran
terus untuk sesegera mungkin menjalankan advis sang desainer interior tersebut.
Terhadap saran manusia, terhadap nasihat manusia, kita bak... bik... buk... memikirkan dan
mengikutinya. Mengapa terhadap nasihat Allah dan Rasul-Nya tidak kita ikuti?
Apakah karena kita tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau jangan-jangan
kita terjebak kepada kesungkanan atau makna keikhlasan yang barangkali perlu
dikoreksi? Sehingga ibadah kita tidak bertenaga? Tidak memiliki spirit? Sebab
bisa jadi bayang-bayang tidak boleh beribadah karena meminta sesuatu dari
Allah; entah itu dunia-Nya, berharap solusi dari-Nya, menjadikan kita seperti
setengah-setengah beribadah. Bukan karena penuh pengharapan kepada-Nya, atas janji-janji-Nya
sendiri.
Macam gini, Allah
menyebut bahwa jalan tahajjud akan membuat hidup seseorang berubah menjadi
lebih baik lagi. Bila dilakukan terus-menerus akan membuat seseorang naik terus
derajat dan kemuliaannya. Lalu, ada seseorang yang melakukan tahajjud sebab
percaya akan firman-firman Allah dan hadits-hadits Rasul seputar tahajjud ini,
dan kemudian menyandarkan harapan hanya pada-Nya -sekali lagi, hanya pada-Nya-,
apakah ini salah? Lebih utama mana dengan yang tidak mengerjakannya? Atau lebih
utama mana dengan yang mengerjakannya tanpa berharap kepada-Nya? Apalagi kalau
kita sepakat bahwa meminta kepada Allah pun merupakan ibadah tersendiri?
Tahajjud ya ibadah... dan meminta (do'a) adalah juga ibadah. Maka bila
seseorang melakukan tahajjud dan juga berdo'a kepada Allah, bukankah dia malah
dapat dua keutamaan?
Terus lagi, Rasul misal pernah bilang juga begini, "Kalau mau dibantu Allah, bantulah
sesama." Lalu, seseorang yang menghendaki pertolongan Allah bergegas
menyambut seruan ini untuk benar-benar berharap turunnya pertolongan Allah
baginya. Apakah ini salah? Tega bener
kalo salah mah.
Saudaraku, ayo! Beranilah meminta. Kalimat bahwa beribadah
sama Allah, beribadah saja, jangan minta-minta sama Allah, harus ikhlas, ini
menurut saya perlu dilakukan lagi penelitian mendalam. Kasihan orang yang butuh
pertolongan Allah yang menempuh jalan ibadah dan jalan-jalan yang diseru-Nya.
Mohon do'a agar Allah memberikan bimbingan kebenaran
dari-Nya. Dan juga mohon koreksi apabila ada pembaca yang lebih arif, lebih
alim, dan lebih mengetahui tentang hal-hal apa yang saya tulis. Andai ada
kebenaran, datangnya dari Allah. Apabila ada kesalahan, itulah saya, Yusuf
Mansur, yang memang begitu banyak kekurangannya. Kepada Allah semua kita
kembalikan.
***
Ilmu akan Menjaga Amal
Ilmu membawa kepada
keyakinan. Keyakinan membawa kepada amal. Amal membawa kepada keberuntungan.
Ada tiga keyakinan: ilmul
yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmul yaqin adalah keyakinan
berdasarkan ilmu. Saya mengajarkan hikmah kepada diri saya, kepada keluarga
saya, kepada jamaah saya, bahwa sedekah bisa begini dan sedekah bisa begitu.
Lalu saya dan di antara yang diseru, bersedekah/melakukan sedekah. Inilah salah
satu bentuk ilmul yaqin, keyakinan berdasarkan ilmu. Dengan ilmunya saya lalu
terdorong kuat untuk beramal. Dari ilmul yaqin tersebut, kemudian ada satu dua
yang merasakan manfaat sedekah. Inilah kiranya yang disebut ainul yaqin,
keyakinan berdasarkan mata, berdasarkan pengalaman. Dan ada satu lagi, yaitu
yang namanya haqqul yaqin. Bulat, enggak perlu pengalaman mesti berhasil, mesti
manfaat. Yakin... ya yakin.
Melihat penjelasan awal di atas, nampaknya kehadiran ilmu,
salah satu kepentingannya adalah supaya mendorong lahirnya amal. Malah dengan
adanya ilmu, maka amal itu akan menjadi terus terpelihara.