Monday, October 1, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0121 Sebuah Keutamaan


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Sebuah Keutamaan
Seri Materi : Seri 21 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Sebuah Keutamaan


Ibadah adalah salah satu ikhtiar mendapatkan dunia.

Saya masih tertarik untuk membahas tentang "menempuh jalan ibadah sebagai sebuah keutamaan".

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menyalahkan orang lain yang beribadah sebagai jalan ikhtiar mencari dunia-Nya Allah. Saya lebih menyebutnya sebagai "sebuah keutamaan".

Ya, mencari dunia dengan jalan beribadah adalah sebuah keutamaan.

Mengapa demikian?

Sebab bukankah mengikuti anjuran Allah dan Rasul-Nya adalah juga ibadah? Dunia adalah milik Allah. Ketika Allah memerintahkan kita begini dan begitu ketika kita mencari dunia milik-Nya, maka ini menjadi sebuah ibadah yang sangat hebat. Di samping tentu menjadi sebuah wujud iman dan keyakinan kepada-Nya. Itu'kan sebutan betawinya nurut, atau percaya.

Saudaraku, terhadap dokter saja, keyakinan kita bukan main hebatnya. Ketika seorang dokter mengatakan, "Anda harus dioperasi segera... dalam hitungan 24 jam!" Wah, kita akan terbirit-birit mengiyakan. Andai kita tidak ada uang pun kita akan mengusahakan setengah mati, pinjam sana pinjam sini. Kalau perlu, kita tinggalkan rumah kita, kita korbankan kendaraan kita untuk mendapatkan uang buat operasi.

Ada ahli desain interior. Dia berkunjung ke rumah kita. Lalu memberikan advisnya tentang tata ruang yang lebih membuat sirkulasi udara rumah kita menjadi lebih bagus, maka insya Allah kita akan mengubah tata letak rumah kita tersebut andai memang kita ada uang. Atau malah jangan-jangan kepikiran terus untuk sesegera mungkin menjalankan advis sang desainer interior tersebut.

Terhadap saran manusia, terhadap nasihat manusia, kita bak... bik... buk... memikirkan dan mengikutinya. Mengapa terhadap nasihat Allah dan Rasul-Nya tidak kita ikuti? Apakah karena kita tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau jangan-jangan kita terjebak kepada kesungkanan atau makna keikhlasan yang barangkali perlu dikoreksi? Sehingga ibadah kita tidak bertenaga? Tidak memiliki spirit? Sebab bisa jadi bayang-bayang tidak boleh beribadah karena meminta sesuatu dari Allah; entah itu dunia-Nya, berharap solusi dari-Nya, menjadikan kita seperti setengah-setengah beribadah. Bukan karena penuh pengharapan kepada-Nya, atas janji-janji-Nya sendiri.

Macam gini, Allah menyebut bahwa jalan tahajjud akan membuat hidup seseorang berubah menjadi lebih baik lagi. Bila dilakukan terus-menerus akan membuat seseorang naik terus derajat dan kemuliaannya. Lalu, ada seseorang yang melakukan tahajjud sebab percaya akan firman-firman Allah dan hadits-hadits Rasul seputar tahajjud ini, dan kemudian menyandarkan harapan hanya pada-Nya -sekali lagi, hanya pada-Nya-, apakah ini salah? Lebih utama mana dengan yang tidak mengerjakannya? Atau lebih utama mana dengan yang mengerjakannya tanpa berharap kepada-Nya? Apalagi kalau kita sepakat bahwa meminta kepada Allah pun merupakan ibadah tersendiri? Tahajjud ya ibadah... dan meminta (do'a) adalah juga ibadah. Maka bila seseorang melakukan tahajjud dan juga berdo'a kepada Allah, bukankah dia malah dapat dua keutamaan?

Terus lagi, Rasul misal pernah bilang juga begini, "Kalau mau dibantu Allah, bantulah sesama." Lalu, seseorang yang menghendaki pertolongan Allah bergegas menyambut seruan ini untuk benar-benar berharap turunnya pertolongan Allah baginya. Apakah ini salah? Tega bener kalo salah mah.

Saudaraku, ayo! Beranilah meminta. Kalimat bahwa beribadah sama Allah, beribadah saja, jangan minta-minta sama Allah, harus ikhlas, ini menurut saya perlu dilakukan lagi penelitian mendalam. Kasihan orang yang butuh pertolongan Allah yang menempuh jalan ibadah dan jalan-jalan yang diseru-Nya.

Mohon do'a agar Allah memberikan bimbingan kebenaran dari-Nya. Dan juga mohon koreksi apabila ada pembaca yang lebih arif, lebih alim, dan lebih mengetahui tentang hal-hal apa yang saya tulis. Andai ada kebenaran, datangnya dari Allah. Apabila ada kesalahan, itulah saya, Yusuf Mansur, yang memang begitu banyak kekurangannya. Kepada Allah semua kita kembalikan.


***


Ilmu akan Menjaga Amal


Ilmu membawa kepada keyakinan. Keyakinan membawa kepada amal. Amal membawa kepada keberuntungan.

Ada tiga keyakinan: ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmul yaqin adalah keyakinan berdasarkan ilmu. Saya mengajarkan hikmah kepada diri saya, kepada keluarga saya, kepada jamaah saya, bahwa sedekah bisa begini dan sedekah bisa begitu. Lalu saya dan di antara yang diseru, bersedekah/melakukan sedekah. Inilah salah satu bentuk ilmul yaqin, keyakinan berdasarkan ilmu. Dengan ilmunya saya lalu terdorong kuat untuk beramal. Dari ilmul yaqin tersebut, kemudian ada satu dua yang merasakan manfaat sedekah. Inilah kiranya yang disebut ainul yaqin, keyakinan berdasarkan mata, berdasarkan pengalaman. Dan ada satu lagi, yaitu yang namanya haqqul yaqin. Bulat, enggak perlu pengalaman mesti berhasil, mesti manfaat. Yakin... ya yakin.

Melihat penjelasan awal di atas, nampaknya kehadiran ilmu, salah satu kepentingannya adalah supaya mendorong lahirnya amal. Malah dengan adanya ilmu, maka amal itu akan menjadi terus terpelihara.

Sunday, September 30, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0120 Pentingkah Dunia?


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Pentingkah Dunia?
Seri Materi : Seri 20 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Pentingkah Dunia?


Banyak sekali perumpamaan tentang dunia di dalam al Qur'an. Hebatnya, sangat fair Allah mengajarkan kita tentang dunia-Nya. Ga apa-apa kita mencari dunia, asal kita ga melupakan Allah. Sayang, kebanyakan manusia tidak punya tauhid yang bagus. Pas ga ada dunia di kakinya, dia nangisnangis minta sama Allah. Begitu ada, Allah dilupakan. Ada yang lurus-lurus saja ketika ga megang harta. Begitu punya harta, berubah. Berubah sombong, berubah lalai, berubah "nafsi-nafsi"/hidup sendiri-sendiri, dan kelewat sibuk sampe lupa sama Allah `azza wa jalla.

Sementara itu, tidak sedikit juga yang kemudian tetap selamet dan menjadikan "memiliki" dunia sebagai keutamaan yang menambah iman dan kesalehan. Tentu saja kita kepengen seperti yang disebut terakhir ini. Punya dunia, tetap saleh. Malah bertambah saleh. Punya dunia, bertambah tawadhu'. Punya dunia, tapi bertambah-tambah kebaikannya. Punya dunia, bertambah-tambah takutnya sama Allah. Entahlah, saya yang muda ini masih menganggap, jadilah orang-orang yang terdepan dalam dunia dan akhirat, ga boleh timpang salah satunya. Namun segitunya saya berprinsip ini, saya pun mengamini agar diri kita siap saja dulu. Daripada kemudian berubah menjadi liar setelah memegang dunia.

Ok, mudah-mudahan selingan esai-esai di 2 kuliah kemaren, sudah cukup menjawab beberapa pertanyaan yang dialamatkan ke saya. Berikut ini kita lanjutkan esai-esai yang masih berkelanjutan dengan soal-soal tauhid yang dilekatkan/dikaitkan dengan shalat. Bagi saya, ini juga persiapan memegang dunia tapi mengendalikannya, bukan dikendalikan dunia. Betapapun, menjadi muslim yang kuat, yang berhasil, yang banyak manfaatnya, lebih disukai Allah ketimbang muslim yang kemudian menjadi beban bagi orang lain dan minim manfaat gara-gara ketidakberdayaan SDM dan ekonominya.


***


Tidak Sadar


(+) Tambah sibuk ya...?

(-) Alhamdulillah... Begitulah.

(+) Sudah berapa cabang sekarang ini...?

(-) Baru empat cabang. Saya jadi lumayan sibuk muter antar-cabang.

(+) Wah, subhaanallaah ya.

(-) Iya, subhaanallaah... Alhamdulillah.


***


Peserta KuliahOnline, sepintas tidak ada masalah ya dengan dialog di atas. Malah kayaknya dialog di atas terjadi di antara dua sahabat di mana salah satunya adalah pengusaha soleh yang sukses. Tidak nampak di antaranya ada penyakit. Setidaknya dilihat dari jawaban-jawabannya yang banyak mengucapkan puji-pujian kepada Allah; Subhaanallah dan alhamdulillaah.

Benarkah demikian? Belum tentu. Saya sering memancing dengan kalimat pertanyaan tersebut ke kawan-kawan. Kemudian, setelah dapat jawabannya, saya ajukan lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya, yang kemudian kami sama-sama merenung jadinya.

(+) Shalatnya bagaimana...? (Kebetulan saya yang nanya, jadi orang kebanyakan ga tersinggung. Apalagi dengan posisi saya yang katanya "ustadz". Maka pertanyaan itu adalah pertanyaan yang dianggap wajar oleh kebanyakan orang. Maka jawaban yang jujur yang didapat dari dia, kelak yang akan membuka tabir apakah sesungguhnya yang sedang terjadi. Benarkah kemajuannya itu nikmat, ataukah justru azab?)

Tuesday, September 25, 2012

Kuliah Dasar Wisata Hati KDWH 0119 Ibadah; Jalan Rezeki Utama


Materi kuliah ini didownload dari www.kuliahonline.wisatahati.com



Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Ibadah; Jalan Rezeki Utama
                       Bekerja dengan Allah, Bekerja untuk Allah
Seri Materi : Seri 19 dari 41 seri/esai

File Paper: Ada
File Audio Tidak
File Video: Tidak
Tugas: Tidak


Ibadah Tujuan Hidup

Abang Kun bangun. Anak saya yang ketiga, laki-laki. Namanya Muhammad Kun Syafi'i. Kami memangginya Abang Kun. Barangkali sebab dipanggilnya abang, maka pas ia berumur empat bulan, istri saya "isi" lagi, alias hamil lagi. Lahirlah kemudian bayi yang ke-empat, yang bisa sembuh, sehat, nromal, sebab salah satunya doa-doa para jamaah semua kepada Allah.

Abang Kun bangun. Jam masih menunjukkan pukul 01-an dinihari. Di TVRI sedang berlangsung LIVE siaran Tarawih dari Mekkah. Subhaanallaah, sambil muraja'ah juz ke-14 untuk ngimamin tarawih besok, saya berdoa agar anak-anak saya dan keluarga, bisa semuanya berangkat ke Baitullaah. Tidak ketinggalan saya berdoa pula untuk Anda peserta KuliahOnline, agar bisa menikmati bersimpuh di hadapan Allah, di Baitullaah-Nya. Ya Allah, saya juga berkesempatan berdoa agar semua kaum muslimin berkesempatan menjadi tamunya Allah.

Abang Kun dibuatkan susu oleh Bu Yayuk. Saya masuk ke kamarnya Abang, dan mengambilnya. Saya gendong, saya usap punggungnya, dan saya katakan padanya: "Abang, lihat Mekkah yuk. Lihat Ka'bah. Lihat yang pada tarawih malam hari ini di Masjidil Haram". Dalam keadaan TV mati, saya hidupkan. Abang terdiam dari nangisnya. Dan masya Allah, dia bersorak ketika melihat langsung menara-menara Masjidil Haram. Abang menunjuk-nunjuk dengan tangan mungilnya layar di TV, dan melihat dengan mata tidak berkedip.

Ya Allah, kami berdua menikmati bacaan ayat suci al Qur'an. Alunannya membuat saya rindu akan Baitullaah.

Kebetulan pula, rombongan Umrah Ramadhan Wisatahati/Daarul Qur'an, yang ke sekian, berangkat shubuh ini, dipimpin oleh KH. Kosasih. Selamat jalan jamaah umrahku, bawalah doa untuk negeri ini. Agar negeri ini mau tunduk dan ta'at kepada Allah. Hanya itu jalannya kalau negeri ini mau makmur kembali. Selamat jalan wahai jamaah umrahku, dan jamaah umrah dari seluruh tanah air. Panjatkanlah doa di sana agar pertolongan Allah segera hadir di kehidupan anak negeri di seluruh negeri. Agar Allah juga berikan ampunan kepada seluruh keluarga besar negeri ini; ya pimpinannya, ya ulamanya, ya habaaibnya, ya masyarakatnya. Semuanya. Agar keridhaan Allah mengiringi seluruh ikhtiar negeri ini memperbaiki diri dan meningkatkan kesejahteraan dus keluar dari segala krisis. Selamat jalan jamaah umrah semua. Semoga Anda semua diberi Allah ganti ongkos umrah dan keletihan selama berumrah dengan kelezatan ibadah, iman dan kembali dengan umrah yang mabrur.

Peserta KuliahOnline, sesuai dengan janji saya, bahwa hari ini kita akan belajar tentang "Ibadah: Jalan Rizki Utama", maka saya hadirkan esai ini melengkapi esai Kuliah Tauhid. Sama dengan esai kemaren, esai ini saya cuplik seadanya juga dari buku The Miracle.